Tanggal 15 November lalu, Majalah Marketing mengadakan seminar digital marketing dengan judul “The Best of Global Digital Marketing”. Selama seminar, Mike Berry sebagai pembicara memberikan contoh-contoh kasus digital campaign yang terbaik di dunia. Beberapa contoh digital campaign yang dibahas adalah Pepsi, Starbucks, Mc Donald, Tipp-Ex, Monopoly dan banyak lagi.  Hal yang menarik dari digital campaign tersebut bukan hanya ide-ide kreatif yang melandasinya melainkan juga strategi dan hasil dari digital campaign.

Salah satu kasus digital campaign yang menarik untuk dibedah adalah campaign “Shoot the Bear” by Tipp-Ex. Produk Tipp-Ex adalah produk yang secara natural tidak banyak dibicarakan di dunia digital. Demi meningkatkanshare of voice di dunia digital, Tipp-Ex meluncurkan video “Shoot the Bear” di Youtube. Video 30 detik ini memuat cuplikan kejadian pemburu yang sedang berkemah di hutan dan kemudian ada seekor beruang yang tiba-tiba muncul. Pemburu itu kebingungan untuk mengambil keputusan apakah dia harus menembak beruang tersebut atau tidak. Temannya terus menyarankan untuk menembak beruang itu namun pemburu tetap bimbang. Di akhir video 30 detik tersebut, ada 2 pilihan yang diberikan yaitu “Shoot the Bear” & “Don’t Shoot the Bear” .Ketika pengunjung mengklik salah satu pilihan, mereka akan di direct ke halaman flash yang memiliki tampilan sangat mirip dengan Youtube. Kali ini, sang pemburu tidak mau menembak beruang tersebut. Pemburu itu kemudian mengambil Tipp-Ex yang berada di samping video dan menghapus sebagian judul video. Pemburu tersebut juga meminta kepada setiap pengunjung untuk “Rewrite the Story” dan “Typing Something”. Jika pengunjung memasukkan suatu kata kerja seperti dances, fight, dll, maka pengunjung dapat melihat cerita pilihan mereka. Inilah yang dinamakan “Tipp Experience”. Tipp-Ex telah menyediakan lebih dari 42 interaksi yang berbeda. Tipp-Ex juga mendorong pengunjung untuk share tentang “Tipp experience” yang mereka pilih melalui Facebook, Twitter dan Email.

Meskipun campaign ini hanya melalui media online, hasil campaign ini sangat luar biasa. Dalam 10 jam pertama, kecepatan sharing video ini adalah 1 tweet per detik. Dalam 36 jam, video ini sudah dilihat oleh 1 juta orang. Setelah 1 minggu, video ini sudah dipublikasikan di ratusan blog, 120.000 kali di share di Facebook dan di Tweet lebih dari 40.000 kali di Twitter. Hal ini juga meningkatkan jumlah mention Tipp-Ex. Sebelum campaign ini, jumlah mention Tipp-Ex hanyalah sekitar 100 mention per hari. Namun di hari peluncuran campaign ini, jumlahmention Tipp-Ex naik berkali-kali lipat hingga mencapai 1600 mention.

5 tahun yang lalu, pengukuran campaign konvensional menghadirkan suatu tantangan tersendiri bagi para marketer. Hal ini dikarenakan untuk dapat melakukan pengukuran campaign secara tepat, diperlukan suatu survey yang memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sekarang hasil digital campaign berupa banyaknya mention, jumlah share di Facebook dan Twitter sudah menjadi hal yang sangat biasa sekarang ini karena adanya platform social media monitoring.

Perkembangan teknologi yang pesat, telah mendorong munculnya social media, website, forum, blog, video, dll. Platform-platform social ini memudahkan konsumen untuk melakukan interaksi dengan sesama konsumen. Konsumen dengan menggunakan “owned” media seperti Facebook, Twitter hingga website, dapat melakukan percakapan dengan sesama konsumen. Percakapan yang terjadi merupakan pendapat,respon maupun pemikiran yang lugas terhadap suatu hal, baik berupa produk, servis atau peristiwa-peristiwa tertentu.

Banyaknya percakapan yang terjadi membuka peluang bagi para marketer untuk memperoleh informasi mengenai suatu topik tertentu. Jika marketer mulai untuk mendengarkan percakapan yang ada di dunia digital maka marketer akan memperoleh insght mengenai topik tersebut. Percakapan yang terjadi mengenai topik tertentu dapat dianalisa lebih lanjut dengan menggunakan Sentimen Analisis. Sentimen Analisis akan memisahkan setiap percakapan dalam beberapa kategori, misalnya menjadi sentimen positif, sentimen netral dan sentimen negatif. Cara untuk mendengarkan percakapan dan melakukan sentimen analisis adalah dengan menggunakan social media monitoring.

Aplikasi Penggunaan Social media monitoring:

1. Mengetahui respon konsumen terhadap suatu hal (produk, servis, event,dll)
Beberapa waktu lalu, sebuah study dari Trendrr mencoba membandingkan respon konsumen terhadap film “Harry Potter & the Deathly Hallows Part 2” dan “The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1” dalam hal buzz/mention dan sentimen. Data buzz dan sentimen dikumpulkan selama 2 minggu sebelum setiap film ditayangkan. Hasilnya jumlah buzz “Harry Potter” jauh lebih banyak dibandingkan dengan buzz “Breaking Dawn”. Dalam hal sentimen di Twitter, film “Breaking Dawn” memperoleh 41% sentimen positif, 7% sentimen negatif dan 52% sentimen netral sementara film “Harry Potter & the Deathly Hallows Part 2” memperoleh 70% sentimen positif, 7% sentimen negatif dan 23% sentimen netral. Dari analisa sentimen, dapat dilihat bahwa film “Harry Potter” memiliki sentimen yang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

2. Alert System
Monitoring jumlah buzz/mention dan sentimen dapat digunakan sebagai alert system. Perusahaan yang melakukan monitoring dengan menggunakan social media monitoring platform. Dari hasilmonitoring, perusahaan dapat mengetahui seberapa banyak brand mereka dibicarakan tiap harinya. Grafik sentimen positif, negatif dan netral dapat memberikan gambaran situasi yang terjadi secarareal time.  Dari data yang dikeluarkan oleh Alterian, Nestle pernah mengalami penurunan sentimen positif sebanyak 36,21%. Hal ini terjadi karena Nestle melakukan sensor terhadap video dari Greenpeace tentang penggunaan suplier yang tidak  eco-friendly. Jumlah sentimen positif yang turun drastis dan peningkatan sentimen negatif membuat Nestle mengambil tindakan yang cepat untuk mengatasi krisis yang terjadi. Bayangkan jika Nestle tidak melakukan monitoring maka percakapan yang terjadi mengenai Nestle adalah percakapan yang bersifat negatif dan merugikan Nestle. Sangat penting untuk perusahaan  melakukan monitoring terhadap brand maupun campaign mereka, sehingga jika ada indikasi potensi krisis yang dapat  membahayakan, perusahaan dapat segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.

3. Source of Knowledge
Social media monitoring dapat berfungsi sebagai source of knowledge. Marketer dapat melakukanmonitoring terhadap suatu topik tertentu untuk memperoleh “knowledge”. Frontier Consulting Group beberapa waktu lalu telah mengakuisi Mediawave yang memiliki spesialisasi dalam social media monitoring. Dengan menggunakan platform Mediawave, Frontier Consulting Group mencoba untuk menampilkan overview mengenai industri otomotif dan industri perbankan. Overview ini yang diharapkan dapat memberikan knowledge bagi marketer mengenai 2 industri ini. Data overviewindustri merupakan hasil monitoring selama bulan Oktober 2011.

Sentimen Industri Perbankan

Sentimen Industri Otomotif

Industri otomotif merupakan salah satu industri yang sangat cocok untuk menggunakan social media. Target market industri motor relatif muda dan sangat erat dengan lifestyle. Dari data Mediawave selama bulan Oktober 2011, industri otomotif merupakan salah satu industri dengan jumlah mention  paling banyak, yaitu 25.939mention/bulan. 84,58% total mention berasal dari social media (Facebook dan Twitter). Hal ini menunjukkan bahwa merek-merek di Industri otomotif sering dibicarakan di dunia digital. Dari data Mediawave, 86,72% dari jumlah mention yang ada di Industri perbankan merupakan sentimen netral, kemudian 9,36% sentimen positif dan 3,92% merupakan sentimen negatif.

Frontier Consulting Group juga melakukan review terhadap industri perbankan. Jika dibandingkan, industri perbankan memang relatif kurang dibicarakan dibandingkan Industri Otomotif. Dari data Mediawave bulan Oktober 2011, tercatat ada 7997 mention yang terjadi di industri perbankan. Jumlah mention ini hanya sepertiga dari total mention di industri otomotif. Digital channel yang menjadi sumber utama percakapan industri perbankan adalah Twitter (85,46%-6835 mention). Hal menarik dari landscape industri perbankan ini adalah tidak banyak percakapan yang terjadi di Facebook. Facebook memang memiliki pengguna yang banyak namun 67% pengguna Facebook Indonesia berada di kelompok umur 14-24 tahun. Kelompok umur 14-24 memang bukan merupakan target market utama di industri perbankan. Target market industri perbankan umumnya kelompok mapan yang  relatif tidak muda. Industri perbankan juga merupakan industri yang sangat mementingkan “Trust” dan cenderung konvensional. Hal-hal ini yang menyebabkan percakapan mengenai industri perbankan hanya sepertiga percakapan dari industri otomotif.

Hasil analisa sentimen industri perbankan menunjukkan bahwa sentimen positif (21,68%) di industri perbankan lebih tinggi dibandingkan sentimen positif (9,36%) di industri otomotif, meskipun demikian industri perbankan juga memiliki sentimen negatif yang lebih tinggi (10,54%) dibandingkan Industri Otomotif (3,92%) dan sentimen netral (67,78%) masih mendominasi di Industri perbankan maupun industri otomotif.

Social media monitoring mampu memberikan benefit yang sangat penting. Para marketer diharapkan dapat menggunakan social media monitoring untuk menambah basis informasi mengenai pasar, produknya, mempertajam strategi perusahaan di ranah digital , meluncurkan digital campaign yang sukses dan meningkatkan performa brand maupun perusahaan.

 [/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]