<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Social Media Monitoring Archives - Rendipeterson</title>
	<atom:link href="https://rendipeterson.com/tag/social-media-monitoring/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://rendipeterson.com/tag/social-media-monitoring/</link>
	<description>Digital Business becomes easy</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Feb 2017 13:40:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>Fenomena Gunung Es pada Social Web Monitoring</title>
		<link>https://rendipeterson.com/fenomena-gunung-es-pada-social-web-monitoring/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 09:52:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena gunung es monitoring]]></category>
		<category><![CDATA[social media crisis]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Monitoring]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=32</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sepuluh tahun lalu, informasi merupakan satu hal yang sifatnya mahal dan eksklusif. Hanya perusahaan media seperti stasiun TV, stasiun radio, koran dan majalah, yang mampu memberikan informasi kepada customer. Akibat perkembangan teknologi yang cepat, setiap orang dapat membuat konten digital dengan lebih mudah.Smartphone seperti iPhone dan BlackBerry dapat digunakan untuk menghasilkan konten digital baik berupa konten audio,  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/fenomena-gunung-es-pada-social-web-monitoring/">Fenomena Gunung Es pada Social Web Monitoring</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Sepuluh tahun lalu, informasi merupakan satu hal yang sifatnya mahal dan eksklusif. Hanya perusahaan media seperti stasiun TV, stasiun radio, koran dan majalah, yang mampu memberikan informasi kepada <i>customer</i>.</p>
<p style="text-align: left;">Akibat perkembangan teknologi yang cepat, setiap orang dapat membuat konten digital dengan lebih mudah.<i>Smartphone</i> seperti iPhone dan BlackBerry dapat digunakan untuk menghasilkan konten digital baik berupa konten audio, visual, video, maupun artikel. Teknologi juga memberikan kebebasan untuk menguasai media mereka sendiri, contohnya semua orang dapat membuat akun di media sosial (Facebook, Twitter), blog, hingga website.</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-32"></span></p>
<p style="text-align: left;">Kemudahan untuk membuat dan memublikasikan konten-konten digital mendorong orang untuk menuliskan pengalaman mereka tentang hal-hal yang mereka alami, entah pengalaman yang baik maupun pengalaman yang buruk tentang suatu produk, servis, maupun <i>event</i> tertentu. Kebebasan untuk berbagi pengalaman di ranah digital mengikis kendali <i>brand</i> maupun perusahaan dalam membentuk persepsi konsumennya.</p>
<p style="text-align: left;">Di <i>social web </i>terjadi berbagai macam percakapan mengenai produk, layanan, <i>event</i>, <i>brand</i>, hingga perusahaan. Tentunya penting bagi marketer untuk memahami dan mendalami pembicaraan yang terjadi di sana. Hal ini mendorong pertanyaan-pertanyaan seperti:</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>berapa besar dampak yang ditimbulkan dari konten negatif di <i>social web</i>?;</li>
<li>apa akibatnya jika kita tidak melakukan <i>monitoring</i> secara online?;</li>
<li>apakah marketer perlu melakukan <i>online monitoring</i>?</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">Salah satu studi kasus mengenai pengaruh konten negatif di <i>social web </i>adalah kasus United Airlines. Pada Maret 2008, Dave Carrol, seorang pemusik dari Kanada dan anggota band Sons of Maxwell, melakukan perjalanan dari Halifax ke Nebraska melalui O’Hare Airport di Chicago. Saat mendarat, Dave Carrol melihat bahwa petugas bagasi melemparkan gitar miliknya yang seharga US$ 3.500. Setelah sampai di tujuan, gitar Taylor milik Dave rusak parah, leher gitar patah menjadi dua bagian. Setelah tur musik selama seminggu, Dave mengajukan klaim mengenai kerusakan gitar tersebut kepada United Airlines.</p>
<p style="text-align: left;">Setelah bertemu dengan beberapa orang dari United Airlines, Dave mendapatkan jawaban bahwa United Airlines menolak memberikan kompensasi untuk kerusakan gitar itu. Dave berkata kepada petugas United Airlines (Ms. Irlweg) bahwa akan membuat tiga buah lagu tentang kejadian ini dan akan diunggah ke YouTube sehingga semua orang bisa mengetahui kejadian yang dia alami dengan United Airlines.</p>
<p style="text-align: left;">Dave mengunggah video pertamanya pada 6 Juli 2009. Di hari pertama, video tersebut sudah dilihat 150.000 kali. Pada 9 Juli 2009, video tersebut mencapai angka 500.000, kemudian pada 21 Agustus 2009, jumlah <i>view</i> video ini telah mencapai angka 5 juta.</p>
<p style="text-align: left;">Karena video protes yang berkembang secara viral ini, United Airlines mengalami kerugian yang besar. Maskapai ini memperoleh banyak pemberitaan negatif. United Airlines dipersepsikan sebagai maskapai penerbangan dengan layanan yang buruk, sehingga banyak <i>potential customer </i>yang hilang akibat kejadian ini, bahkan memengaruhi harga saham mereka. Setelah hari video ini di-<i>upload</i>, harga saham United Airlines turun 10% dengan nilai kerugian sekitar US$ 180 juta.</p>
<p style="text-align: left;">Kasus United Airlines ini memberikan gambaran mengenai dampak yang ditimbulkan oleh konten negatif di<i>social web</i>. Marketer tidak boleh meremehkan konten-konten negatif yang ada di media ini. Marketer harus memahami bahwa <i>audience</i> sekarang adalah <i>audience with audiences</i>, sehingga hal-hal yang bersifat negatif bisa tersebar secara cepat.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana kondisi di Indonesia? Frontier Consulting Group melakukan <em>social web</em> <i>monitoring</i> menggunakan platform Mediawave. Hasil memonitor selama satu bulan terakhir menunjukkan bahwa industri perbankan memiliki 791 sentimen negatif. Hasil tersebut<i> </i>menunjukkan bahwa <i>conversation</i> yang bersifat negatif banyak terjadi di <i>social web</i>. Jumlah percakapan negatif yang besar seharusnya mendorong <i>marketer</i> untuk melakukan social web <i>monitoring </i>mengenai produk, servis, <i>brand</i>, maupun perusahaan.</p>
<p style="text-align: left;">Banyak marketer mengatakan bahwa mereka sudah mulai memantau percakapan di <i>social web</i>, namun itu hanya dilakukan di Facebook Fan Page<i> </i>maupun di akun resmi Twitter<i> </i>mereka. Hal ini perlu untuk dilakukan karena artinya marketer memiliki kesadaran untuk melakukan <i>monitoring</i>. Meskipun demikian, marketer jangan sampai terjebak untuk melihat ke arah yang salah.</p>
<p style="text-align: left;" align="center">Fenomena gunung es sering terjadi di dalam kegiatan <em>social web</em> <i>monitoring</i>. Pada industri perbankan misalnya, menurut data Bank Indonesia, ada 100 juta rekening nasabah, diasumsikan ada 60 juta nasabah sebagai target market industri perbankan. Asumsi total pelanggan yang telah tergabung di akun resmi Facebook dan Twitter<i> </i>dari bank A adalah 4 juta. Saat marketer terlalu fokus untuk memonitor Facebook Fan Page dan akun resmi Twitter mereka, mereka melihat ke arah yang salah. Marketer hanya fokus pada bagian yang kelihatan dari percakapan yang terjadi di Facebook Fan Page<i> </i>dan akun Twitter, sementara sebagian besar dari gunung es percakapan yang terjadi di <i>social web</i> luput dari pemantauan. Hal ini akan memberikan hasil <i>monitoring </i>yang buruk karena kita hanya memerhatikan percakapan yang dilakukan 4 juta nasabah kita dan mengabaikan 56 juta nasabah yang lain.</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Fenomena-Gunung-Es-pada-Social-Web-Monitoring.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-98" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Fenomena-Gunung-Es-pada-Social-Web-Monitoring.jpg" alt="Fenomena-Gunung-Es-pada-Social-Web-Monitoring" width="293" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Jumlah pengguna internet di Indonesia terus bertambah sehingga mencapai 55 juta. Indonesia adalah negara ke-3 terbanyak di dunia untuk jumlah pengguna Facebook, sebesar 43 juta. Indonesia juga termasuk salah satu negara yang aktif di Twitter dan sering menyumbangkan <i>trending topic</i>. Hal-hal ini merupakan faktor yang memungkinkan terjadinya kasus seperti United Airlines di Indonesia, sehingga perusahaan-perusahaan di Indonesia sebenarnya memiliki risiko yang sangat besar mengalami kasus seperti United Airlines. Apakah marketer siap menanggung risiko yang akan terjadi?</p>
<p style="text-align: left;">Jadi, pilihan apa yang akan diambil oleh para marketer Indonesia, apakah akan memulai untuk melakukan <em>social web</em> <i>monitoring</i> secara menyeluruh, ataukah menunggu hingga krisis terjadi lebih dahulu?</p>
[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/fenomena-gunung-es-pada-social-web-monitoring/">Fenomena Gunung Es pada Social Web Monitoring</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Penggunaan Social Media Monitoring</title>
		<link>https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/</link>
					<comments>https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 09:21:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[New Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[digital campaign tipp ex]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing campaign]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[mention social media di di industri otomotif]]></category>
		<category><![CDATA[mention social media di industri perbankan]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Monitoring]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=21</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanggal 15 November lalu, Majalah Marketing mengadakan seminar digital marketing dengan judul “The Best of Global Digital Marketing”. Selama seminar, Mike Berry sebagai pembicara memberikan contoh-contoh kasus digital campaign yang terbaik di dunia. Beberapa contoh digital campaign yang dibahas adalah Pepsi, Starbucks, Mc Donald, Tipp-Ex, Monopoly dan banyak lagi.  Hal yang menarik dari digital campaign tersebut bukan hanya ide-ide kreatif yang melandasinya melainkan  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/">Aplikasi Penggunaan Social Media Monitoring</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 15 November lalu, Majalah Marketing mengadakan seminar <i>digital marketing</i> dengan judul <i>“The Best of Global Digital Marketing”</i>. Selama seminar, Mike Berry sebagai pembicara memberikan contoh-contoh kasus <i>digital campaign</i> yang terbaik di dunia. Beberapa contoh <i>digital campaign</i> yang dibahas adalah Pepsi, Starbucks, Mc Donald, Tipp-Ex, Monopoly dan banyak lagi.  Hal yang menarik dari <i>digital campaign</i> tersebut bukan hanya ide-ide kreatif yang melandasinya melainkan juga strategi dan hasil dari <i>digital campaign</i>.</p>
<p><span id="more-21"></span></p>
<p>Salah satu kasus <i>digital campaign</i> yang menarik untuk dibedah adalah <i>campaign</i> <i>“Shoot the Bear”</i> <i>by Tipp-Ex</i>. Produk Tipp-Ex adalah produk yang secara natural tidak banyak dibicarakan di dunia digital. Demi meningkatkan<i>share of voice</i> di dunia digital, Tipp-Ex meluncurkan video <i>“Shoot the Bear”</i> di Youtube. Video 30 detik ini memuat cuplikan kejadian pemburu yang sedang berkemah di hutan dan kemudian ada seekor beruang yang tiba-tiba muncul. Pemburu itu kebingungan untuk mengambil keputusan apakah dia harus menembak beruang tersebut atau tidak. Temannya terus menyarankan untuk menembak beruang itu namun pemburu tetap bimbang. Di akhir video 30 detik tersebut, ada 2 pilihan yang diberikan yaitu <i>“Shoot the Bear” &amp; “Don’t Shoot the Bear”</i> .Ketika pengunjung mengklik salah satu pilihan, mereka akan di <i>direct</i> ke halaman <i>flash</i> yang memiliki tampilan sangat mirip dengan Youtube. Kali ini, sang pemburu tidak mau menembak beruang tersebut. Pemburu itu kemudian mengambil Tipp-Ex yang berada di samping video dan menghapus sebagian judul video. Pemburu tersebut juga meminta kepada setiap pengunjung untuk <i>“Rewrite the Story”</i> dan <i>“Typing Something”.</i> Jika pengunjung memasukkan suatu kata kerja seperti <i>dances, fight</i>, dll, maka pengunjung dapat melihat cerita pilihan mereka. Inilah yang dinamakan “<i>Tipp Experience”</i>. Tipp-Ex telah menyediakan lebih dari 42 interaksi yang berbeda. Tipp-Ex juga mendorong pengunjung untuk <i>share</i> tentang <i>“Tipp experience”</i> yang mereka pilih melalui Facebook, Twitter dan Email.</p>
<p>Meskipun <i>campaign</i> ini hanya melalui media online, hasil <i>campaign</i> ini sangat luar biasa. Dalam 10 jam pertama, kecepatan <i>sharing</i> video ini adalah 1 tweet per detik. Dalam 36 jam, video ini sudah dilihat oleh 1 juta orang. Setelah 1 minggu, video ini sudah dipublikasikan di ratusan blog, 120.000 kali di share di Facebook dan di Tweet lebih dari 40.000 kali di Twitter. Hal ini juga meningkatkan jumlah <i>mention </i>Tipp-Ex. Sebelum <i>campaign</i> ini, jumlah <i>mention</i> Tipp-Ex hanyalah sekitar 100 <i>mention</i> per hari. Namun di hari peluncuran campaign ini, jumlah<i>mention</i> Tipp-Ex naik berkali-kali lipat hingga mencapai 1600 <i>mention</i>.</p>
<p>5 tahun yang lalu, pengukuran campaign konvensional menghadirkan suatu tantangan tersendiri bagi para marketer. Hal ini dikarenakan untuk dapat melakukan pengukuran campaign secara tepat, diperlukan suatu survey yang memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sekarang hasil digital campaign berupa banyaknya <i>mention</i>, jumlah share di Facebook dan Twitter sudah menjadi hal yang sangat biasa sekarang ini karena adanya platform <i>social media monitoring</i>.</p>
<p>Perkembangan teknologi yang pesat, telah mendorong munculnya social media, website, forum, blog, video, dll. Platform-platform social ini memudahkan konsumen untuk melakukan interaksi dengan sesama konsumen. Konsumen dengan menggunakan <i>“owned”</i> media seperti Facebook, Twitter hingga website, dapat melakukan percakapan dengan sesama konsumen. Percakapan yang terjadi merupakan pendapat,respon maupun pemikiran yang lugas terhadap suatu hal, baik berupa produk, servis atau peristiwa-peristiwa tertentu.</p>
<p>Banyaknya percakapan yang terjadi membuka peluang bagi para marketer untuk memperoleh informasi mengenai suatu topik tertentu. Jika marketer mulai untuk mendengarkan percakapan yang ada di dunia digital maka marketer akan memperoleh insght mengenai topik tersebut. Percakapan yang terjadi mengenai topik tertentu dapat dianalisa lebih lanjut dengan menggunakan Sentimen Analisis. Sentimen Analisis akan memisahkan setiap percakapan dalam beberapa kategori, misalnya menjadi sentimen positif, sentimen netral dan sentimen negatif. Cara untuk mendengarkan percakapan dan melakukan sentimen analisis adalah dengan menggunakan <i>social media monitoring</i>.</p>
<p>Aplikasi Penggunaan <i>Social media monitoring</i>:</p>
<p><strong>1.</strong><b> Mengetahui respon konsumen terhadap suatu hal (produk, servis, <i>event</i>,dll)</b><br />
Beberapa waktu lalu, sebuah <i>study</i> dari Trendrr mencoba membandingkan respon konsumen terhadap film <i>“Harry Potter &amp; the Deathly Hallows Part 2”</i> dan <i>“The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1”</i> dalam hal <i>buzz/mention</i> dan sentimen. Data <i>buzz</i> dan sentimen dikumpulkan selama 2 minggu sebelum setiap film ditayangkan. Hasilnya jumlah buzz <i>“Harry Potter”</i> jauh lebih banyak dibandingkan dengan buzz “Breaking Dawn”. Dalam hal sentimen di Twitter, film <i>“Breaking Dawn”</i> memperoleh 41% sentimen positif, 7% sentimen negatif dan 52% sentimen netral sementara film <i>“Harry Potter &amp; the Deathly Hallows Part 2”</i> memperoleh 70% sentimen positif, 7% sentimen negatif dan 23% sentimen netral. Dari analisa sentimen, dapat dilihat bahwa film <i>“Harry Potter”</i> memiliki sentimen yang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas.</p>
<p>2. <b><i>Alert System</i></b><br />
<i>Monitoring</i> jumlah <i>buzz/mention</i> dan sentimen dapat digunakan sebagai <i>alert system</i>. Perusahaan yang melakukan <i>monitoring</i> dengan menggunakan <i>social media monitoring</i> platform. Dari hasil<i>monitoring</i>, perusahaan dapat mengetahui seberapa banyak brand mereka dibicarakan tiap harinya. Grafik sentimen positif, negatif dan netral dapat memberikan gambaran situasi yang terjadi secara<i>real time</i>.  Dari data yang dikeluarkan oleh Alterian, Nestle pernah mengalami penurunan sentimen positif sebanyak 36,21%. Hal ini terjadi karena Nestle melakukan sensor terhadap video dari Greenpeace tentang penggunaan suplier yang tidak  <i>eco-friendly. </i>Jumlah sentimen positif yang turun drastis dan peningkatan sentimen negatif membuat Nestle mengambil tindakan yang cepat untuk mengatasi krisis yang terjadi. Bayangkan jika Nestle tidak melakukan monitoring maka percakapan yang terjadi mengenai Nestle adalah percakapan yang bersifat negatif dan merugikan Nestle. Sangat penting untuk perusahaan  melakukan <i>monitoring</i> terhadap brand maupun <i>campaign </i>mereka, sehingga jika ada indikasi potensi krisis yang dapat  membahayakan, perusahaan dapat segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.</p>
<p><strong>3. <i>Source of Knowledge</i></strong><br />
<i>Social media monitoring</i> dapat berfungsi sebagai <i>source of knowledge</i>. Marketer dapat melakukan<i>monitoring</i> terhadap suatu topik tertentu untuk memperoleh <i>“knowledge”</i>. Frontier Consulting Group beberapa waktu lalu telah mengakuisi Mediawave yang memiliki spesialisasi dalam <i>social media monitoring</i>. Dengan menggunakan platform Mediawave, Frontier Consulting Group mencoba untuk menampilkan <i>overview</i> mengenai industri otomotif dan industri perbankan. <i>Overview</i> ini yang diharapkan dapat memberikan <i>knowledge</i> bagi marketer mengenai 2 industri ini. Data <i>overview</i>industri merupakan hasil <i>monitoring</i> selama bulan Oktober 2011.</p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Perbankan.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-image-25" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Perbankan.jpg" alt="Sentimen Industri Perbankan" width="487" height="296" /></a></p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Otomotif.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-image-26" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Otomotif.jpg" alt="Sentimen Industri Otomotif" width="489" height="296" /></a></p>
<p>Industri otomotif merupakan salah satu industri yang sangat cocok untuk menggunakan social media. Target market industri motor relatif muda dan sangat erat dengan <i>lifestyle</i>. Dari data Mediawave selama bulan Oktober 2011, industri otomotif merupakan salah satu industri dengan jumlah <i>mention</i>  paling banyak, yaitu 25.939<i>mention</i>/bulan. 84,58% total <i>mention</i> berasal dari social media (Facebook dan Twitter). Hal ini menunjukkan bahwa merek-merek di Industri otomotif sering dibicarakan di dunia digital. Dari data Mediawave, 86,72% dari jumlah <i>mention</i> yang ada di Industri perbankan merupakan sentimen netral, kemudian 9,36% sentimen positif dan 3,92% merupakan sentimen negatif.</p>
<p>Frontier Consulting Group juga melakukan <i>review</i> terhadap industri perbankan. Jika dibandingkan, industri perbankan memang relatif kurang dibicarakan dibandingkan Industri Otomotif. Dari data Mediawave bulan Oktober 2011, tercatat ada 7997 <i>mention</i> yang terjadi di industri perbankan. Jumlah <i>mention</i> ini hanya sepertiga dari total <i>mention</i> di industri otomotif. <i>Digital channel</i> yang menjadi sumber utama percakapan industri perbankan adalah Twitter (85,46%-6835 <i>mention</i>). Hal menarik dari <i>landscape </i>industri perbankan ini adalah tidak banyak percakapan yang terjadi di Facebook. Facebook memang memiliki pengguna yang banyak namun 67% pengguna Facebook Indonesia berada di kelompok umur 14-24 tahun. Kelompok umur 14-24 memang bukan merupakan target market utama di industri perbankan. Target market industri perbankan umumnya kelompok mapan yang  relatif tidak muda. Industri perbankan juga merupakan industri yang sangat mementingkan <i>“Trust”</i> dan cenderung konvensional. Hal-hal ini yang menyebabkan percakapan mengenai industri perbankan hanya sepertiga percakapan dari industri otomotif.</p>
<p>Hasil analisa sentimen industri perbankan menunjukkan bahwa sentimen positif (21,68%) di industri perbankan lebih tinggi dibandingkan sentimen positif (9,36%) di industri otomotif, meskipun demikian industri perbankan juga memiliki sentimen negatif yang lebih tinggi (10,54%) dibandingkan Industri Otomotif (3,92%) dan sentimen netral (67,78%) masih mendominasi di Industri perbankan maupun industri otomotif.</p>
<p>Social media monitoring mampu memberikan benefit yang sangat penting. Para marketer diharapkan dapat menggunakan social media monitoring untuk menambah basis informasi mengenai pasar, produknya, mempertajam strategi perusahaan di ranah digital , meluncurkan digital campaign yang sukses dan meningkatkan performa brand maupun perusahaan.</p>
<p>&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/">Aplikasi Penggunaan Social Media Monitoring</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
