<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>digital marketing strategy Archives - Rendipeterson</title>
	<atom:link href="https://rendipeterson.com/tag/digital-marketing-strategy-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://rendipeterson.com/tag/digital-marketing-strategy-2/</link>
	<description>Digital Business becomes easy</description>
	<lastBuildDate>Sat, 30 Dec 2017 16:18:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>New Approach – Creative Solution Based On Data</title>
		<link>https://rendipeterson.com/new-approach-creative-solution-based-on-data/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jul 2013 04:37:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[inovasi kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Snickers PPC Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[solusi kreatif dengan data]]></category>
		<category><![CDATA[Unique PPC Campaign]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=193</guid>

					<description><![CDATA[<p>“We will always have problems as long as we live.” Sebagai seorang marketer kita seringkali menghadapi banyak problem yang kompleks, misalnya bagaimana menjangkau target konsumen, meningkatkan brand awareness produk kita, mengubah persepsi konsumen, meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan hingga bagaimana memenangkan kompetisi melawan kompetitor. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memahami problem yang dihadapi dan membuat solusi  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-approach-creative-solution-based-on-data/">New Approach – Creative Solution Based On Data</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><i>“We will always have problems as long as we live.”</i></p>
<p>Sebagai seorang marketer kita seringkali menghadapi banyak problem yang kompleks, misalnya bagaimana menjangkau target konsumen, meningkatkan brand awareness produk kita, mengubah persepsi konsumen, meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan hingga bagaimana memenangkan kompetisi melawan kompetitor.</p>
<p>Pertanyaannya adalah bagaimana kita memahami problem yang dihadapi dan membuat solusi yang tepat?</p>
<p>Seringkali marketer terjebak dalam mengembangkan solusi lama dan tidak mencoba pendekatan baru untuk mencapai hasil yang diinginkan. Marketer seharusnya menggunakan pendekatan yang baru untuk membuat <b><i>Creative Solution Based On Data.</i></b><br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Salah satu contoh perusahaan yang menggunakan <b><i>Creative Solution Based On Data</i></b> adalah Snickers. Snickers merupakan perusahaan <i>candy bar</i> dengan nilai sales lebih dari $ 3 billion di seluruh dunia.</p>
<p>Snickers dan AMV BBDO menemukan <b>data</b> yang menarik bahwa orang yang lapar memiliki kecenderungan untuk melakukan <b>kesalahan</b> saat mengetik dengan <b>pola yang sama</b>. Data ini digunakan Snickers sebagai dasar dari PPC Campaign nya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/07/Misspelled-with-regularity-pattern.png"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter  wp-image-195" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/07/Misspelled-with-regularity-pattern.png" alt=" Misspelled-with-regularity-pattern.png" width="596" height="332" /></a></p>
<p>Snickers dan AMV BBDO melakukan satu pendekatan yang berbeda dalam melakukan PPC Campaign. PPC Campaign biasanya selalu dimulai dengan <b><i>keyword research</i></b> untuk memperoleh list keyword yang relevan dengan Snickers misalnya seperti “Candy UK” atau “Chocolate UK” tapi Snickers tidak menggunakan pendekatan ini. Snickers justru memilih untuk memasang iklan untuk <i>query</i> atau hasil pencarian yang salah ketik.</p>
<p>Ide ppc campaign ini adalah untuk menjangkau target market Snickers yaitu orang-orang yang lapar dan membutuhkan snack, sehingga ketika ada orang yang lapar dan melakukan pencarian, mereka akan memasukkan kata-kata yang salah/<b><i>misspelled keywords</i></b>. Snickers yang sudah membeli keyword ini akan mengingatkan bahwa mereka bukanlah diri mereka saat mereka lapar-<b><i>“You are not you when you are hungry” </i></b>dan menyarankan untuk segera mengambil atau membeli Snickers dengan <i>landing page</i> di website <a href="http://yourenotyouwhenyourehungry.com/" target="_blank">youcantspellwhenyourehungry.com</a>.</p>
<p>Pada awalnya Snickers hanya membeli 500 kata-kata yang salah ketik tapi kemudian Snickers melanjutkan untuk membeli lebih dari 25.000 kata-kata yang salah ketik.</p>
<p>Campaign ini sangat kreatif dan tepat. Snickers sebagai merek snack dapat menjangkau target marketnya yaitu orang-orang yang lapar melalui indikator <b>misspelling keywords</b>. Campaign ini juga akan memakan biaya yang lebih rendah karena keyword atau kata-kata yang dibeli snickers merupakan keyword yang misspelled (hampir tidak ada orang yang membeli misspelled word sehingga kompetisinya rendah dan harga CPCnya rendah).</p>
<p>PPC Campaign ini dengan segera meraih sukses. Dalam 2 hari, Snickers sudah berhasil menjangkau 558.589 orang yang lapar melalui campaign ini, tentunya dengan beberapa orang yang memang tidak mampu untuk mengetik dengan benar.</p>
<p>Snickers dengan PPC Campaignnya yang unik merupakan contoh sukses bagaimana menggunakan data untuk membuat creative solution. Snickers berhasil memanfaatkan data perilaku search orang yang lapar untuk menjangkau konsumen snickers dengan biaya CPC seminimal mungkin.</p>
<p>So bagaimana kita sebagai marketer membuat <b><i>Creative Solution Based On Data?</i></b><br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-approach-creative-solution-based-on-data/">New Approach – Creative Solution Based On Data</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>New Way of Building Brand – Participation Branding</title>
		<link>https://rendipeterson.com/new-way-of-building-brand-participation-branding/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 May 2013 09:16:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[brand building]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing campaign]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Lost in Val Sinestra]]></category>
		<category><![CDATA[participation branding]]></category>
		<category><![CDATA[trend digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=143</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu tugas utama marketer adalah membangun brand. Tugas berat ini mendorong marketer untuk selalu berinovasi dan mencari cara baru dalam membangun brand. Marketer harus selalu memerhatikan tren yang terjadi sehingga dapat membuat strategi yang tepat untuk digunakan. Harus diingat bahwa kemajuan teknologi yang pesat dapat mengubah perilaku konsumen. Berikut adalah contoh perubahan perilaku akibat  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-way-of-building-brand-participation-branding/">New Way of Building Brand – Participation Branding</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tugas utama marketer adalah membangun brand. Tugas berat ini mendorong marketer untuk selalu berinovasi dan mencari cara baru dalam membangun brand.</p>
<p>Marketer harus selalu memerhatikan tren yang terjadi sehingga dapat membuat strategi yang tepat untuk digunakan. Harus diingat bahwa kemajuan teknologi yang pesat dapat mengubah perilaku konsumen.</p>
<p>Berikut adalah contoh perubahan perilaku akibat kemajuan teknologi. Beberapa hari yang lalu, teman saya menceritakan suatu kisah yang menyadarkan saya bahwa perubahan perilaku akibat teknologi telah terjadi.</p>
<p>Anak teman saya itu masih berusia 12 tahun. Tahun lalu, teman saya membelikan dia sebuah ATV. Karena sudah bosan, ia merengek kepada ayahnya meminta sepeda motor kecil. Ayahnya menjawab, “Oke, nanti ATV-nya dijual dulu, setelah itu baru kita beli sepeda motor kecil.”</p>
<p>Sang anak segera mengajak pembantunya untuk membersihkan ATV, mengambil gambar ATV itu dengan smartphone, dan mengiklankannya ke Tokobagus.com. Teman saya sangat kaget melihat hal ini, karena cara yang dia pikirkan adalah menelepon toko yang dulu menjual ATV, kemudian menawarkan ATV bekas itu ke toko. <strong>Perubahan perilaku itu memang terjadi!!</strong></p>
<p>Ada tiga tren yang perlu diperhatikan marketer, yaitu:</p>
<p><strong>1. Self Expression/Sharing</strong> &#8211; Konsumen suka mengekspresikan diri dengan cara sharing informasi ke network mereka melalui owned media yang dimiliki.</p>
<p><strong>2. On Demand</strong> &#8211; Konsumen memiliki kendali penuh untuk memilih informasi yang akan dikonsumsi. Konsumen akan memilih brand yang relevan dengan kebutuhannya, apa yang ia butuhkan, dan kapan ia ingin mengakses informasi tersebut. Dari passive consumption à active management.</p>
<p><strong>3. Personal</strong> &#8211; Konsumen menginginkan layanan yang lebih personal. Konsumen ingin memiliki kebebasan lebih dalam memilih pengalaman mereka sendiri. Konsumen tidak lagi ingin diinterupsi, namun lebih menghargai “customized invitation”.</p>
<p>Tiga tren ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki ekspektasi on demand, menginginkan personal experience, dan suka mengekspresikan diri (self expression) dengan cara melakukan sharing informasi, gambar atau foto, dan lain-lain. Jika brand ingin tetap relevan dengan konsumen, brand harus melakukan partisipasi.</p>
<p>Cara baru untuk membangun merek adalah dengan melakukan <strong>“Participation Branding”</strong></p>
<p>Lost in Val Sinestra – digital campaign Swisscom untuk layanan video on demand. Tujuan campaign adalah meningkatkan brand awareness. Swisscom menciptakan website (http://www2.lost-in-val-sinestra.com) untuk membuat personalized horror thriller. Kita dapat mengatur tingkat keseraman dan menambahkan 10 pemain dari teman Facebook kita. Setelah kita mendaftar dan membuat thriller, kita bisa share thriller kita melalui Facebook, Twitter dan e-mail.</p>
<p>Campaign ini menjadi sangat populer dan respons yang diterima sangat bagus. Dalam 4 hari pertama, ada 48.000 visit ke web ini, 270.000 video yang dibuat, dan 2.048.778 Facebook page views .</p>
<p>Campaign ini dinilai berhasil karena konsepnya yang brilliant. Dengan mengusung tema horor, Swisscom berhasil mengajak konsumennya untuk berpartisipasi. Swisscom memfasilitasi konsumen untuk membuat personal thriller mereka, mengajak teman mereka, dan share hasil thriller ini ke teman-teman di social network mereka.</p>
<p>Jadi, siapkah marketer Indonesia untuk menyusun strategi membangun brand melalui participation branding?</p>
[follow id=&#8221;rendipeterson&#8221; size=&#8221;large&#8221; ]
<p>&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-way-of-building-brand-participation-branding/">New Way of Building Brand – Participation Branding</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>New Customer Decision Journey in Digital Era</title>
		<link>https://rendipeterson.com/new-customer-decision-journey-in-digital-era/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Apr 2013 09:07:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[6 degree of separation]]></category>
		<category><![CDATA[cara konsumen membuat keputusan]]></category>
		<category><![CDATA[customer decision journey]]></category>
		<category><![CDATA[decision making process]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=89</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tahun 2012, United States Census Bureau (USCB) mencatat milestone penduduk dunia bahwa jumlah penduduk dunia telah mencapai 7 miliar dan diperkirakan akan tumbuh menjadi 8 miliar di tahun 2027. Jumlah penduduk dunia yang sangat banyak ini menimbulkan impresi bahwa jika kita bertemu dengan seseorang, maka pertemuan ini sangat spesial karena probabilitas untuk bertemu adalah  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-customer-decision-journey-in-digital-era/">New Customer Decision Journey in Digital Era</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 2012, United States Census Bureau (USCB) mencatat <i>milestone</i> penduduk dunia bahwa jumlah penduduk dunia telah mencapai 7 miliar dan diperkirakan akan tumbuh menjadi 8 miliar di tahun 2027.</p>
<p>Jumlah penduduk dunia yang sangat banyak ini menimbulkan impresi bahwa jika kita bertemu dengan seseorang, maka pertemuan ini sangat spesial karena probabilitas untuk bertemu adalah 1:7.000.000.000. Meskipun demikian, berapa banyak dari kita yang pernah menemukan bahwa orang-orang baru yang kita temui ternyata memiliki hubungan dengan teman kita bahkan merupakan teman dari teman dari teman kita? Apakah semua penduduk dunia sebenarnya terkoneksi?<span id="more-89"></span></p>
<p>Stanley Milgram, seorang psikolog di Amerika, mengadakan satu penelitian untuk mengetahui bagaimana dua orang yang dipilih secara random dapat terhubung. Penelitian yang sering disebut “<i>small world phenomenon</i>” ini menunjukkan bahwa 2 orang yang tidak saling kenal ini akan terhubung melalui 5–6 orang. Hasil penelitian ini sering juga disebut dengan “<i>6 degree of separation</i>”—semua orang akan terhubung satu sama lain melalui maksimum 6 orang.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Penelitian ini telah menunjukkan bahwa semua orang terhubung satu sama lain. Perkembangan teknologi seperti <i>social network</i> bahkan membantu kita untuk terhubung lebih dekat lagi. Pada tahun 2011, tim data Facebook menerbitkan hasil penelitian mengenai bagaimana seseorang di media sosial dapat terhubung satu sama lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 orang yang tidak saling kenal dapat terhubung melalui 4,74 orang. <i>Social network</i> membuat dunia menjadi semakin terkoneksi dan terasa semakin kecil.</p>
<p>Fenomena ini menyebabkan istilah <i>connected consumer</i> menjadi populer. <i>Connected consumer</i> adalah konsumen yang terhubung melalui <i>social network</i>. <i>Social network</i> memudahkan <i>connected consumer</i> untuk memperluas <i>network</i>-nya, baik melalui <i>social graph</i> (berdasarkan <i>relationship</i>) maupun <i>interest graph</i> (berdasarkan <i>interest</i> yang sama) sehingga <i>connected consumer</i> seharusnya memiliki <i>network</i> yang jauh lebih besar.</p>
<p><i>Connected consumer</i> selalu ingin memperoleh informasi dari <i>network social graph</i> dan <i>interest graph</i> yang <i>personalized</i>. <i>Connected consumer</i> memilih informasi yang akan diakses dan dikonsumsi dalam kehidupan sehari-harinya. Perubahan ini menghasilkan <i>customer decision journey</i> (CDJ) yang berbeda.</p>
<p>CDJ<i> connected consumer</i> tidak lagi menggunakan <i>systematic</i> <i>approach</i>, dimana konsumen memilih banyak <i>potential brand</i> yang kemudian secara bertahap dipersempit menjadi beberapa <i>brand</i> sebelum melakukan pembelian. CDJ<i> connected consumer</i> akan lebih bersifat<i> iterative</i> dan sangat bergantung pada <i>brand advocacy</i> dari <i>network</i>-nya.</p>
<p>McKinsey Quarterly menggambarkan CDJ dari <i>connected consumer</i> yang terdiri dari empat tahap:</p>
<p>1. <i>Consider</i>: perjalanan dalam membuat keputusan selalu dimulai dengan <i>brand-brand</i> yang menjadi <i>top of mind</i> di kepala konsumen akibat <i>selected</i> <i>eksposure</i> melalui <i>network</i> yang dimiliki.</p>
<p>2. <i>Evaluate</i>: pada tahap ini konsumen akan mencari <i>input</i> dari teman, <i>review</i>, toko, dan sumber-sumber lain. Konsumen akan menambahkan <i>brand</i> yang dipertimbangkan, membandingkan dengan kompetitornya, dan  membuang <i>brand</i> yang tidak relevan dengan kriteria yang diinginkan.</p>
<p>3. <i>Buy</i>: tahap ketika konsumen melakukan pembelian di toko. Di tahap ini ketersediaan, kemasan, harga, dan interaksi dengan sales menjadi <i>touch point</i> konsumen yang semakin penting.</p>
<p>4. <i>Enjoy, advocate, bond</i>: <i>connected consumer</i> yang <i>enjoy</i> dengan <i>brand</i> yang dibeli akan lebih mudah untuk melakukan <i>advocate</i> kepada orang lain yang berada di dalam <i>network</i>-nya dan tercipta suatu <i>bond</i> dengan <i>brand</i> tersebut, dan akan menciptakan suatu <i>loyalty loop</i> yang membuat pembelian <i>brand</i> tersebut akan terulang lagi tanpa melalui tahap <i>consider</i> dan <i>evaluate</i>.</p>
<p>Perubahan CDJ ini mendorong <i>brand-brand</i> untuk lebih fokus menciptakan interaksi, <i>engagement</i>,dan <i>experience</i> yang disukai konsumen sesuai dengan tahap CDJ.</p>
<p><i>Brand</i> juga harus memperhatikan <i>brand advocacy</i> karena <i>connected consumer</i> sangat bergantung pada <i>advocacy </i>yang terjadi di <i>social graph</i> dan <i>social interest</i>. <i>Brand</i> memiliki potensi besar untuk menyebarkan <i>brand advocacy</i> dengan cara menciptakan strategi untuk membangun hubungan dengan <i>connected consumer</i> dan komunitasnya. <i>Brand </i>yang berhasil melakukan hal ini akan memiliki loyalitas yang lebih tinggi dibanding dengan kompetitor.[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-customer-decision-journey-in-digital-era/">New Customer Decision Journey in Digital Era</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Content Marketing – New Digital Marketing Trend in 2013</title>
		<link>https://rendipeterson.com/content-marketing-new-digital-marketing-trend-in-2013/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 10:29:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[case study content marketing]]></category>
		<category><![CDATA[content marketing]]></category>
		<category><![CDATA[contoh public relation digital]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[red bull stratos project]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=43</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dahulu ada batasan yang sangat jelas antara perusahaan media dan perusahaan non media namun sekarang batasan itu telah memudar. Kemajuan teknologi seperti website, blog, video dan social media, membuat brand dapat memiliki Own Media sendiri. Brand menggunakan Own Media mereka untuk memberikan informasi dan berinteraksi dengan customer mereka. Own Media membutuhkan content untuk disampaikan kepada  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/content-marketing-new-digital-marketing-trend-in-2013/">Content Marketing – New Digital Marketing Trend in 2013</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dahulu ada batasan yang sangat jelas antara perusahaan media dan perusahaan non media namun sekarang batasan itu telah memudar. Kemajuan teknologi seperti website, blog, video dan social media, membuat brand dapat memiliki <em>Own Media</em> sendiri. Brand menggunakan <em>Own Media</em> mereka untuk memberikan informasi dan berinteraksi dengan customer mereka. <em>Own Media</em> membutuhkan <em>content</em> untuk disampaikan kepada customer. Hasilnya, brand bertransformasi menjadi media company.</p>
<blockquote><p><em>“We Are All Media Companies Now”</em></p>
<p><span id="more-43"></span></p></blockquote>
<p>Brand sebagai media company akan menggunakan <em>content</em> untuk membangun brand, meningkatkan <em>awarenes</em>s &amp; <em>trust</em>, mendorong <em>purchase intent</em>, menciptakan <em>word of mouth</em> dan meningkatkan <em>engagement</em> dengan <em>target audience</em> mereka. Hal ini akan mendorong digital marketer menaruh perhatian lebih terhadap <em>content marketing</em>.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
<em><b>Content marketing</b></em><strong> is a marketing technique of creating and distributing relevant and valuable </strong><em><b>content</b></em><strong> to attract, acquire, and engage a clearly defined and understood target audience – with the objective of driving profitable customer action – Content Marketing Institute.</strong></p>
<p>Di tahun 2012, salah satu <em>content marketing</em> yang paling berhasil adalah Red Bull Stratos Project. Red Bull memiliki misi untuk memecahkan rekor dunia <em>Free Fall</em>. Felix Baumgartner akan terjun dari ketinggian 128,100 feet, jatuh bebas sehingga melebihi kecepatan supersonic (1,342.8 km/jam) sebelum membuka parasut dan mendarat dengan selamat di bumi.</p>
<p>Peristiwa ini menyedot perhatian sangat banyak orang. Saat misi ini dilaksanakan, ada 8 juta online viewer yang melihat secara langsung/<em>streaming</em>.  Lebih dari 40 Stasiun TV menyiarkan kejadian ini, dan lebih dari 100 portal berita yang menulis mengenai Red Bull Stratos. Video ini sudah dilihat lebih dari 32 juta kali di Youtube. Foto pendaratan Felix Baumgartner yang di post di Facebook Page Red Bull Stratos menerima lebih dari 21.000 comment, 51.000 share, dan 489.000 like. Di Twitter, Felix Baumgartner dan Redbull mendominasi <em>Trending Topic</em> Twitter pada tanggal 14 Oktober 2012. Dampak dari peristiwa ini sungguh besar. Majalah Forbes memperkirakan bahwa <em>global eksposure</em> yang diterima Red Bull setara dengan puluhan juta dollar Amerika.</p>
<p>Keberhasilan Red Bull memperoleh eksposure yang besar sangat ditunjang dengan komitmen mereka terhadap <em>content marketing</em>. Red Bull sangat fokus untuk membuat <em>Great Content</em>. Red Bull berani melakukan investasi yang besar bahkan memiliki <em>media house</em> khusus <em>content</em>.</p>
<p><em>Content marketing</em> yang berhasil selalu memerlukan <em><b>“Great Content”</b></em> sebagai inti.</p>
<p>Keberhasilan Red Bull dalam menjalankan <em>content marketing</em>, telah membuka mata para digital marketer. <em>Content marketing</em> segera menjadi prioritas utama oleh para digital marketer di 2013. Hasil Riset dari Econsultancy menyatakan bahwa 3 prioritas digital marketer dunia di 2013 adalah <em>content marketing</em>, <em>conversion rate optimization</em> <em>dan social media engagement</em>.</p>
<p>Data Riset Frontier Consulting Group menyatakan bahwa kelompok <em><b>Creator</b></em>/<em>content maker </em>hanya 8,5% dan sisanya adalah pengkonsumsi <em>content</em> di internet. Fakta ini menunjukkan bahwa kesempatan brand untuk masuk melalui <em>content marketing</em> sangat terbuka. Persaingan untuk membuat <em>Great Content</em> masih belum seberat di negara-negara maju.</p>
<p>Saat <em>content marketing</em> menjadi prioritas utama, digital marketer harus menentukan siapa sebenarnya <em>target audience</em>, bagaimana behavior mereka dalam melakukan pembelian kemudian apa masalah terbesar yang mereka hadapi, bagaimana cara mereka mencari solusi atas pemasalahan tersebut.</p>
<p>Setelah mengetahui semua hal di atas, digital marketer dapat membuat <em>content</em> yang <strong>menarik, </strong><em><b>engaging</b></em><strong> dan relevan</strong> di setiap fase <em>buying cycle</em>, apakah <em>content</em> ini digunakan untuk <em>awareness</em> produk, riset mengenai solusi yang ditawarkan, meningkatkan <em>purchase intent</em> atau <em>sales</em>. Jenis <em>content</em> yang bisa diproduksi adalah <em>blog post, picture, infographic, video, report/e-book, slideshare</em>, dll.</p>
<p>Tujuan dari <em>content</em> yang dibuat adalah memberikan <strong>nilai tambah</strong> kepada customer. Customer tidak mau dipaksa untuk membeli, apa yang mereka inginkan adalah <em>content</em> yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka.</p>
<p>Bagaimana digital marketer Indonesia bersiap menghadapi Tren Baru <em>Digital Marketing</em> di 2013, yaitu <em>content marketing.</em> Strategi <em>content marketing</em> apa yang dipersiapkan di 2013? Segera persiapkan strategi <em>content marketing</em> brand anda sebelum tertinggal dari persaingan.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/content-marketing-new-digital-marketing-trend-in-2013/">Content Marketing – New Digital Marketing Trend in 2013</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Utilisasi Informasi untuk Memenangkan Kompetisi</title>
		<link>https://rendipeterson.com/utilisasi-informasi-untuk-memenangkan-kompetisi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 10:25:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[digital campaign target]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Fear of Missing Out]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<category><![CDATA[gold rush california]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah informasi online per menit]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan informasi]]></category>
		<category><![CDATA[utilisasi informasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=40</guid>

					<description><![CDATA[<p>Utilisasi informasi dapat menjadi kunci sukses dalam kehidupan setiap orang. Salah satu contoh utilisasi informasi yang dapat mengubah hidup orang banyak adalah peristiwa Gold Rush di California. Di Januari 1848, James W Marshall menemukan bongkahan emas saat mengerjakan bangunan untuk John Sutter di American River. Marshall dan John Sutter segera mengetes apakah ini adalah bongkahan emas asli. Hasil  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/utilisasi-informasi-untuk-memenangkan-kompetisi/">Utilisasi Informasi untuk Memenangkan Kompetisi</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Utilisasi informasi dapat menjadi kunci sukses dalam kehidupan setiap orang. Salah satu contoh utilisasi informasi yang dapat mengubah hidup orang banyak adalah peristiwa <i>Gold Rush</i> di California.</p>
<p>Di Januari 1848, James W Marshall menemukan bongkahan emas saat mengerjakan bangunan untuk John Sutter di <i>American River</i>. Marshall dan John Sutter segera mengetes apakah ini adalah bongkahan emas asli. Hasil tes membuktikan bahwa ini adalah emas asli. Rumor penemuan emas ini mulai merebak. Bulan Maret 1848, penemuan ini ditulis di koran. Awalnya banyak orang bersikap skeptis akan berita ini, namun Sam Brannan membuat kehebohan saat ia berkeliling kota dengan membawa emas yang dia temukan.</p>
<p>Tahun 1849, Gelombang <i>Gold Rush</i> dimulai. Banyak penduduk Amerika yang menjual rumahnya, meninggalkan pekerjaan mereka, untuk pergi menjadi penambang emas di California. Ledakan penduduk terjadi di kota San Fransisco dari 800 penduduk di 1848 menjadi lebih dari 100.000 penduduk di 1849.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Satu informasi bahwa California kaya akan emas telah mengubah hidup banyak orang.</p>
<p>Di masa lalu, tantangan yang dihadapi adalah kelangkaan informasi. Informasi merupakan sesuatu yang mahal dan berharga sehingga hanya sekelompok orang yang dapat memperoleh informasi.</p>
<p>Di masa kini, sangat banyak informasi yang tersedia secara online. Berikut adalah informasi jumlah informasi online yang dibuat setiap 1 menit:</p>
<ul>
<li>48 jam video diupload oleh pengguna Youtube</li>
<li>571 website baru yang dibuat</li>
<li>100.000 tweet</li>
<li>694.000 search query di Google</li>
<li>695.000 status update di Facebook</li>
<li>200 juta email terkirim</li>
</ul>
<p><i>“With so much information now online, it is exceptionally easy to simply dive in and drown” – Alfred Glossbrenner</i></p>
<p>Jumlah informasi yang sangat banyak dapat menimbulkan beberapa dampak negatif:</p>
<p><b><i>Less Attention Span</i></b><br />
Bayangkan saat seseorang <i>browsing</i> di internet, berapa <i>tab browser</i> yang dibuka pada saat bersamaan. Melimpahnya informasi di dunia <i>online</i>, membuat orang menjadi  <i>multitasking</i> atau melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan. Jika hal ini terjadi secara terus menerus, orang akan terbiasa untuk berganti fokus secara cepat. Hasilnya adalah orang akan memiliki lebih sedikit waktu untuk fokus pada satu tugas/ <i>Less Attention Span</i>.</p>
<p><b><i>Fear of Missing Out (FOMO)</i></b><br />
Definisi <i>Fear of Missing Out (FOMO)</i> dari JWT Intelligence adalah satu perasaan tidak nyaman yang diderita seseorang karena ada sesuatu yang terlewatkan mengenai aktifitas teman kita, apa yang dia tahu atau kepemilikan terhadap sesuatu yang lebih bagus daripada yang kita miliki.<br />
FOMO dapat mengakibatkan seseorang takut untuk pergi ke restoran dan memesan makanan yang “salah” atau FOMO juga dapat mendorong seseorang melakukan pembelian sebenarnya tidak dibutuhkan, misalnya membeli <i>smartphone</i> terbaru, karena semua teman kelompoknya sudah memiliki <i>smartphone</i> terbaru itu. Hal ini terjadi karena penderita FOMO menerima tekanan sosial dan perasaan tidak ingin “berbeda” dari lingkungan.<br />
Informasi dari <i>social media</i> mengenai teman-teman, justru memperparah FOMO, karena seseorang akan makin mudah tergoda untuk selalu mengecek <i>social media</i> karena merasa takut akan melewatkan sesuatu yang “menarik” dari teman-temannya.</p>
<p><b><i>Less Time to Procces Information</i></b><br />
Ketersediaan informasi yang melimpah, justru membuat rasa lapar akan informasi makin meningkat. Akibatnya konsumsi akan informasi semakin meningkat, seseorang tidak hanya mengkonsumsi informasi yang <i>“need to know”</i> tapi juga informasi yang bersifat <i>“nice to know”.</i> Perilaku membaca bisa berubah menjadi <i>skimming</i> sehingga orang memiliki kecenderungan untuk tidak memproses informasi/ <i>Less Time to Process Information</i>.</p>
<p>Bagi marketer, informasi mengenai <i>industrial landscape</i>, <i>customer behavior</i>, <i>brand awareness &amp; brand image</i>, akan sangat berguna untuk menyusun strategi marketing. Tantangan yang dihadapi oleh marketer adalah bagaimana memperoleh informasi yang dibutuhkan, bagaimana melakukan <i>filtering</i> terhadap informasi, ekstraksi informasi dan bagaimana menggunakan informasi untuk membuat strategi yang tepat dan relevan.</p>
<p>Penggunaan <i>digital media</i> memudahkan marketer untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan. Data mengenai calon konsumen dapat diperoleh melalui <i>log in form</i> di website. Tren mengenai pembicaraan tentang topik tertentu dapat diperoleh melalui penggunaan <i>Social Media Monitoring Software</i>, seperti Mediawave, Radian 6, dll.</p>
<p>Semakin banyak informasi yang dapat dikumpulkan, semakin mudah bagi marketer untuk melakukan <i>micro segmentation</i>, menciptakan <i>personalized offer</i> or <i>treatment</i> dan menggunakan <i>predictive modelling framework</i>.</p>
<p>Salah satu perusahaan yang menggunakan informasi untuk memenangkan persaingan adalah Target. Target adalah perusahaan <i>discount store</i> dengan revenue sebesar US$ 69,87 Billion di 2011. Target mengumpulkan informasi seperti, <i>personal data</i> (nama, alamat email), data demografi, <i>history</i> transaksi kartu kredit. Target juga melakukan analisa sejarah pembelian ibu hamil. Semua informasi itu diolah sehingga Target memiliki suatu sistem yang dapat mengeluarkan <i>Pregnancy Score</i>. Dari <i>Pregnancy Score</i>, Target akan mengirimkan kupon diskon untuk item khusus yang dibutuhkan oleh  member Target di periode tertentu, misalnya di 20 minggu pertama, ibu hamil biasanya membeli supplemen untuk kalsium, magnesium dan <i>zinc </i>dalam jumlah banyak<i>.</i>Jadi Target mengirimkan kupon diskon untuk pembelian suplemen kalsium, magnesium dan <i>zinc</i>. Hasilnya, member target mendapatkan <i>personalized offer</i> yang sesuai dengan kebutuhan mereka sehingga Target dapat melakukan retensi pelanggan dan meningkatkan <i>wallet share</i>.</p>
<p>Bagaimana marketer melakukan utilisasi informasi secara tepat akan menjadi kunci sukses untuk memenangkan kompetisi di pasar. Apakah marketer di Indonesia siap untuk melakukan utilisasi informasi secara tepat?<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/utilisasi-informasi-untuk-memenangkan-kompetisi/">Utilisasi Informasi untuk Memenangkan Kompetisi</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kunci Sukses Digital Marketing</title>
		<link>https://rendipeterson.com/kunci-sukses-digital-marketing/</link>
					<comments>https://rendipeterson.com/kunci-sukses-digital-marketing/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 09:57:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[case study tesco]]></category>
		<category><![CDATA[consumer behavior]]></category>
		<category><![CDATA[digital campaign home plus]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[kunci sukses digital marketing]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=36</guid>

					<description><![CDATA[<p>Digital marketing merupakan salah satu tren marketing yang paling hot dibicarakan saat ini. Banyak brand berlomba-lomba menggunakan digital marketing, meskipun demikian banyak pula brand yang gagal dalam menggunakannya. Salah satu cara untuk mengetahui kunci sukses digital marketing adalah dengan mempelajari case study digital marketing yang berhasil. Salah satu contoh digital marketing yang berhasil adalah Tesco atau Home Plus di Korea Selatan. Pasar Korea Selatan merupakan pasar yang  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/kunci-sukses-digital-marketing/">Kunci Sukses Digital Marketing</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Digital</em><i> </i><em>marketing</em> merupakan salah satu tren marketing yang paling <em>hot</em> dibicarakan saat ini. Banyak <em>brand </em>berlomba-lomba menggunakan <em>digital marketing</em>, meskipun demikian banyak pula <em>brand</em> yang gagal dalam menggunakannya. Salah satu cara untuk mengetahui kunci sukses <em>digital marketing</em> adalah dengan mempelajari <em>case study digital marketing</em> yang berhasil.</p>
<p>Salah satu contoh digital marketing yang berhasil adalah Tesco atau Home Plus di Korea Selatan. Pasar Korea Selatan merupakan pasar yang sukar untuk ditaklukkan, bahkan Walmart dan Carrefour pernah mengalami kegagalan saat masuk ke pasar Korea Selatan. Home Plus menghadapi tantangan yang berat untuk mendominasi pasar Korea Selatan.</p>
<p>Home Plus berambisi untuk mengalahkan E-Mart dan menjadi <em>market leader</em> di Korea Selatan. E-Mart memiliki jumlah toko yang lebih banyak daripada Home Plus. Kondisi ini memaksa Home Plus mengembangkan <em>channel strategy</em> yang berbeda dari E-Mart.</p>
<p>Home Plus mengadakan riset secara mendalam mengenai perilaku penduduk Korea Selatan. Dari hasil riset, penduduk Korea Selatan merupakan penduduk dengan tingkat produktivitas yang tinggi, dan berbelanja merupakan salah satu aktivitas yang dibenci, karena dianggap merupakan aktivitas yang menghabiskan waktu mereka.</p>
<p>Korea Selatan merupakan negara dengan penetrasi internet yang tinggi—82,7% dan 40 juta pengguna internet. Di tahun 2009, hanya ada 470.000 pengguna <em>smartphone</em> di Korea Selatan. Pada Maret 2011, jumlah pengguna<em>smartphone</em> sudah mencapai 10 juta dan meningkat menjadi dua kali lipat (20 juta pengguna) di bulan Oktober 2011.</p>
<p>Berdasarkan data-data ini, Home Plus melakukan inovasi pada <em>channel strategy</em> mereka. Home Plus tidak menggunakan strategi konvensional dengan menambah jumlah toko, namun mereka berinovasi menggunakan<em>digital channel</em>. Home Plus meluncurkan ide <em>“Let the store come to people”</em>. Ide ini diwujudkan dengan menciptakan <em>virtual store</em> di <em>subway</em>. <em>Virtual store</em> ini memiliki tampilan yang mirip dengan tampilan di supermarket. Konsumen dapat membeli barang yang diinginkan dengan melakukan <em>scanning</em> QR <em>code</em> melalui<em>smartphone</em>. Home Plus akan segera mengantarkan barang yang dibeli ke rumah mereka dalam waktu singkat.</p>
<p><em>Digital</em><i> </i><em>campaign</em> ini dilakukan dari November 2010–Januari 2011. Selama <em>campaign</em> ini, penjualan online Home Plus meningkat 130%, jumlah <em>member</em> meningkat 76%, dan 10.287 konsumen mengunjungi <em>mobile site</em> Home Plus melalui <em>smartphone</em>. Home Plus juga menjadi nomor 1 untuk <em>online market</em> dan nomor 2 di <em>offline market</em>.</p>
<p>Kunci sukses <em>digital marketing</em> Home Plus:</p>
<p><strong>1. Pemahaman</strong> <em><b>Customer Behavior</b></em></p>
<p>Inovasi yang dilakukan oleh Home Plus, berdasarkan data riset mengenai <em>customer behavior</em> di Korea Selatan. Home Plus memperoleh <em>insight</em> bahwa  penduduk Korea Selatan sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga tidak memiliki banyak waktu luang. Penduduk Korea Selatan menganggap bahwa aktivitas belanja di supermarket atau toko ritel adalah aktivitas yang menghabiskan waktu mereka. Home Plus juga menemukan bahwa penduduk Korea Selatan “terpaksa“ membuang waktu ketika menunggu <em>subway</em>. Home Plus mengubah aktivitas menunggu <em>subway</em> menjadi satu pengalaman belanja yang menarik dan efisien.</p>
<p><strong>2. Pemahaman Tren Industri dan Teknologi</strong></p>
<p>Home Plus memutuskan untuk menggunakan <em>virtual store</em> karena Korea Selatan memiliki penetrasi internet dan penggunaan <em>smartphone</em> yang tinggi. Home Plus bisa membuat <em>mobile site</em> yang nyaman dan canggih untuk mendukung pembelian secara online. Hasilnya jumlah <em>online sales</em> meningkat 130%.</p>
<p><strong>3. Solusi Kreatif</strong></p>
<p>Solusi yang diberikan Home Plus bukan sekadar membuat <em>mobile site</em>, <em>display</em><i> </i>di <em>subway</em>, dan menggunakan QR <em>code</em> untuk <em>online shopping</em>. Home Plus menawarkan solusi untuk menghemat waktu belanja dan cara baru berbelanja yang berbeda dengan kompetitor.</p>
<p>Kunci sukses <em>digital marketing</em> dapat dibagi dalam dua bagian besar. Bagian <em>pertama</em> adalah perencanaan yang baik; dan bagian <em>kedua</em> adalah proses eksekusi yang <em>excellent.</em> Marketer harus memiliki pemahaman yang mendalam saat membuat <em>digital marketing plan</em>. <em>Digital marketing plan</em> bukan hanya berisi <em>channel</em><i> </i>yang akan digunakan, pesan yang disampaikan, berapa <em>follower</em> atau <em>fans</em> yang ingin diperoleh. <em>Digital marketing plan</em>harus disusun berdasarkan informasi <em>landscape</em> industri, tren industri &amp; teknologi, <em>customer behavior</em>, dan<em>buying process</em>. Informasi ini akan membantu marketer untuk mengidentifikasi masalah yang dianggap penting oleh konsumen, menentukan <em>digital marketing tools</em> yang diperlukan, membuat solusi kreatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Proses eksekusi <em>digital marketing</em> juga harus dilakukan secara <em>excellent</em>, karena rencana yang baik tanpa pelaksanaan tidak akan menghasilkan apa pun.</p>
<p>Apakah Anda, para marketer Indonesia, siap untuk membuat perencanaan <em>digital marketing</em> yang baik dan melakukan proses eksekusi dengan <em>excellent</em>?</p>
<p>&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/kunci-sukses-digital-marketing/">Kunci Sukses Digital Marketing</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://rendipeterson.com/kunci-sukses-digital-marketing/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Penggunaan Social Media Monitoring</title>
		<link>https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/</link>
					<comments>https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 09:21:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[New Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[digital campaign tipp ex]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing campaign]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[mention social media di di industri otomotif]]></category>
		<category><![CDATA[mention social media di industri perbankan]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Monitoring]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=21</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanggal 15 November lalu, Majalah Marketing mengadakan seminar digital marketing dengan judul “The Best of Global Digital Marketing”. Selama seminar, Mike Berry sebagai pembicara memberikan contoh-contoh kasus digital campaign yang terbaik di dunia. Beberapa contoh digital campaign yang dibahas adalah Pepsi, Starbucks, Mc Donald, Tipp-Ex, Monopoly dan banyak lagi.  Hal yang menarik dari digital campaign tersebut bukan hanya ide-ide kreatif yang melandasinya melainkan  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/">Aplikasi Penggunaan Social Media Monitoring</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 15 November lalu, Majalah Marketing mengadakan seminar <i>digital marketing</i> dengan judul <i>“The Best of Global Digital Marketing”</i>. Selama seminar, Mike Berry sebagai pembicara memberikan contoh-contoh kasus <i>digital campaign</i> yang terbaik di dunia. Beberapa contoh <i>digital campaign</i> yang dibahas adalah Pepsi, Starbucks, Mc Donald, Tipp-Ex, Monopoly dan banyak lagi.  Hal yang menarik dari <i>digital campaign</i> tersebut bukan hanya ide-ide kreatif yang melandasinya melainkan juga strategi dan hasil dari <i>digital campaign</i>.</p>
<p><span id="more-21"></span></p>
<p>Salah satu kasus <i>digital campaign</i> yang menarik untuk dibedah adalah <i>campaign</i> <i>“Shoot the Bear”</i> <i>by Tipp-Ex</i>. Produk Tipp-Ex adalah produk yang secara natural tidak banyak dibicarakan di dunia digital. Demi meningkatkan<i>share of voice</i> di dunia digital, Tipp-Ex meluncurkan video <i>“Shoot the Bear”</i> di Youtube. Video 30 detik ini memuat cuplikan kejadian pemburu yang sedang berkemah di hutan dan kemudian ada seekor beruang yang tiba-tiba muncul. Pemburu itu kebingungan untuk mengambil keputusan apakah dia harus menembak beruang tersebut atau tidak. Temannya terus menyarankan untuk menembak beruang itu namun pemburu tetap bimbang. Di akhir video 30 detik tersebut, ada 2 pilihan yang diberikan yaitu <i>“Shoot the Bear” &amp; “Don’t Shoot the Bear”</i> .Ketika pengunjung mengklik salah satu pilihan, mereka akan di <i>direct</i> ke halaman <i>flash</i> yang memiliki tampilan sangat mirip dengan Youtube. Kali ini, sang pemburu tidak mau menembak beruang tersebut. Pemburu itu kemudian mengambil Tipp-Ex yang berada di samping video dan menghapus sebagian judul video. Pemburu tersebut juga meminta kepada setiap pengunjung untuk <i>“Rewrite the Story”</i> dan <i>“Typing Something”.</i> Jika pengunjung memasukkan suatu kata kerja seperti <i>dances, fight</i>, dll, maka pengunjung dapat melihat cerita pilihan mereka. Inilah yang dinamakan “<i>Tipp Experience”</i>. Tipp-Ex telah menyediakan lebih dari 42 interaksi yang berbeda. Tipp-Ex juga mendorong pengunjung untuk <i>share</i> tentang <i>“Tipp experience”</i> yang mereka pilih melalui Facebook, Twitter dan Email.</p>
<p>Meskipun <i>campaign</i> ini hanya melalui media online, hasil <i>campaign</i> ini sangat luar biasa. Dalam 10 jam pertama, kecepatan <i>sharing</i> video ini adalah 1 tweet per detik. Dalam 36 jam, video ini sudah dilihat oleh 1 juta orang. Setelah 1 minggu, video ini sudah dipublikasikan di ratusan blog, 120.000 kali di share di Facebook dan di Tweet lebih dari 40.000 kali di Twitter. Hal ini juga meningkatkan jumlah <i>mention </i>Tipp-Ex. Sebelum <i>campaign</i> ini, jumlah <i>mention</i> Tipp-Ex hanyalah sekitar 100 <i>mention</i> per hari. Namun di hari peluncuran campaign ini, jumlah<i>mention</i> Tipp-Ex naik berkali-kali lipat hingga mencapai 1600 <i>mention</i>.</p>
<p>5 tahun yang lalu, pengukuran campaign konvensional menghadirkan suatu tantangan tersendiri bagi para marketer. Hal ini dikarenakan untuk dapat melakukan pengukuran campaign secara tepat, diperlukan suatu survey yang memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sekarang hasil digital campaign berupa banyaknya <i>mention</i>, jumlah share di Facebook dan Twitter sudah menjadi hal yang sangat biasa sekarang ini karena adanya platform <i>social media monitoring</i>.</p>
<p>Perkembangan teknologi yang pesat, telah mendorong munculnya social media, website, forum, blog, video, dll. Platform-platform social ini memudahkan konsumen untuk melakukan interaksi dengan sesama konsumen. Konsumen dengan menggunakan <i>“owned”</i> media seperti Facebook, Twitter hingga website, dapat melakukan percakapan dengan sesama konsumen. Percakapan yang terjadi merupakan pendapat,respon maupun pemikiran yang lugas terhadap suatu hal, baik berupa produk, servis atau peristiwa-peristiwa tertentu.</p>
<p>Banyaknya percakapan yang terjadi membuka peluang bagi para marketer untuk memperoleh informasi mengenai suatu topik tertentu. Jika marketer mulai untuk mendengarkan percakapan yang ada di dunia digital maka marketer akan memperoleh insght mengenai topik tersebut. Percakapan yang terjadi mengenai topik tertentu dapat dianalisa lebih lanjut dengan menggunakan Sentimen Analisis. Sentimen Analisis akan memisahkan setiap percakapan dalam beberapa kategori, misalnya menjadi sentimen positif, sentimen netral dan sentimen negatif. Cara untuk mendengarkan percakapan dan melakukan sentimen analisis adalah dengan menggunakan <i>social media monitoring</i>.</p>
<p>Aplikasi Penggunaan <i>Social media monitoring</i>:</p>
<p><strong>1.</strong><b> Mengetahui respon konsumen terhadap suatu hal (produk, servis, <i>event</i>,dll)</b><br />
Beberapa waktu lalu, sebuah <i>study</i> dari Trendrr mencoba membandingkan respon konsumen terhadap film <i>“Harry Potter &amp; the Deathly Hallows Part 2”</i> dan <i>“The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1”</i> dalam hal <i>buzz/mention</i> dan sentimen. Data <i>buzz</i> dan sentimen dikumpulkan selama 2 minggu sebelum setiap film ditayangkan. Hasilnya jumlah buzz <i>“Harry Potter”</i> jauh lebih banyak dibandingkan dengan buzz “Breaking Dawn”. Dalam hal sentimen di Twitter, film <i>“Breaking Dawn”</i> memperoleh 41% sentimen positif, 7% sentimen negatif dan 52% sentimen netral sementara film <i>“Harry Potter &amp; the Deathly Hallows Part 2”</i> memperoleh 70% sentimen positif, 7% sentimen negatif dan 23% sentimen netral. Dari analisa sentimen, dapat dilihat bahwa film <i>“Harry Potter”</i> memiliki sentimen yang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas.</p>
<p>2. <b><i>Alert System</i></b><br />
<i>Monitoring</i> jumlah <i>buzz/mention</i> dan sentimen dapat digunakan sebagai <i>alert system</i>. Perusahaan yang melakukan <i>monitoring</i> dengan menggunakan <i>social media monitoring</i> platform. Dari hasil<i>monitoring</i>, perusahaan dapat mengetahui seberapa banyak brand mereka dibicarakan tiap harinya. Grafik sentimen positif, negatif dan netral dapat memberikan gambaran situasi yang terjadi secara<i>real time</i>.  Dari data yang dikeluarkan oleh Alterian, Nestle pernah mengalami penurunan sentimen positif sebanyak 36,21%. Hal ini terjadi karena Nestle melakukan sensor terhadap video dari Greenpeace tentang penggunaan suplier yang tidak  <i>eco-friendly. </i>Jumlah sentimen positif yang turun drastis dan peningkatan sentimen negatif membuat Nestle mengambil tindakan yang cepat untuk mengatasi krisis yang terjadi. Bayangkan jika Nestle tidak melakukan monitoring maka percakapan yang terjadi mengenai Nestle adalah percakapan yang bersifat negatif dan merugikan Nestle. Sangat penting untuk perusahaan  melakukan <i>monitoring</i> terhadap brand maupun <i>campaign </i>mereka, sehingga jika ada indikasi potensi krisis yang dapat  membahayakan, perusahaan dapat segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.</p>
<p><strong>3. <i>Source of Knowledge</i></strong><br />
<i>Social media monitoring</i> dapat berfungsi sebagai <i>source of knowledge</i>. Marketer dapat melakukan<i>monitoring</i> terhadap suatu topik tertentu untuk memperoleh <i>“knowledge”</i>. Frontier Consulting Group beberapa waktu lalu telah mengakuisi Mediawave yang memiliki spesialisasi dalam <i>social media monitoring</i>. Dengan menggunakan platform Mediawave, Frontier Consulting Group mencoba untuk menampilkan <i>overview</i> mengenai industri otomotif dan industri perbankan. <i>Overview</i> ini yang diharapkan dapat memberikan <i>knowledge</i> bagi marketer mengenai 2 industri ini. Data <i>overview</i>industri merupakan hasil <i>monitoring</i> selama bulan Oktober 2011.</p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Perbankan.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-image-25" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Perbankan.jpg" alt="Sentimen Industri Perbankan" width="487" height="296" /></a></p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Otomotif.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-image-26" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Otomotif.jpg" alt="Sentimen Industri Otomotif" width="489" height="296" /></a></p>
<p>Industri otomotif merupakan salah satu industri yang sangat cocok untuk menggunakan social media. Target market industri motor relatif muda dan sangat erat dengan <i>lifestyle</i>. Dari data Mediawave selama bulan Oktober 2011, industri otomotif merupakan salah satu industri dengan jumlah <i>mention</i>  paling banyak, yaitu 25.939<i>mention</i>/bulan. 84,58% total <i>mention</i> berasal dari social media (Facebook dan Twitter). Hal ini menunjukkan bahwa merek-merek di Industri otomotif sering dibicarakan di dunia digital. Dari data Mediawave, 86,72% dari jumlah <i>mention</i> yang ada di Industri perbankan merupakan sentimen netral, kemudian 9,36% sentimen positif dan 3,92% merupakan sentimen negatif.</p>
<p>Frontier Consulting Group juga melakukan <i>review</i> terhadap industri perbankan. Jika dibandingkan, industri perbankan memang relatif kurang dibicarakan dibandingkan Industri Otomotif. Dari data Mediawave bulan Oktober 2011, tercatat ada 7997 <i>mention</i> yang terjadi di industri perbankan. Jumlah <i>mention</i> ini hanya sepertiga dari total <i>mention</i> di industri otomotif. <i>Digital channel</i> yang menjadi sumber utama percakapan industri perbankan adalah Twitter (85,46%-6835 <i>mention</i>). Hal menarik dari <i>landscape </i>industri perbankan ini adalah tidak banyak percakapan yang terjadi di Facebook. Facebook memang memiliki pengguna yang banyak namun 67% pengguna Facebook Indonesia berada di kelompok umur 14-24 tahun. Kelompok umur 14-24 memang bukan merupakan target market utama di industri perbankan. Target market industri perbankan umumnya kelompok mapan yang  relatif tidak muda. Industri perbankan juga merupakan industri yang sangat mementingkan <i>“Trust”</i> dan cenderung konvensional. Hal-hal ini yang menyebabkan percakapan mengenai industri perbankan hanya sepertiga percakapan dari industri otomotif.</p>
<p>Hasil analisa sentimen industri perbankan menunjukkan bahwa sentimen positif (21,68%) di industri perbankan lebih tinggi dibandingkan sentimen positif (9,36%) di industri otomotif, meskipun demikian industri perbankan juga memiliki sentimen negatif yang lebih tinggi (10,54%) dibandingkan Industri Otomotif (3,92%) dan sentimen netral (67,78%) masih mendominasi di Industri perbankan maupun industri otomotif.</p>
<p>Social media monitoring mampu memberikan benefit yang sangat penting. Para marketer diharapkan dapat menggunakan social media monitoring untuk menambah basis informasi mengenai pasar, produknya, mempertajam strategi perusahaan di ranah digital , meluncurkan digital campaign yang sukses dan meningkatkan performa brand maupun perusahaan.</p>
<p>&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/">Aplikasi Penggunaan Social Media Monitoring</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
