<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>digital marketing campaign Archives - Rendipeterson</title>
	<atom:link href="https://rendipeterson.com/tag/digital-marketing-campaign/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://rendipeterson.com/tag/digital-marketing-campaign/</link>
	<description>Digital Business becomes easy</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Feb 2017 13:40:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>New Way of Building Brand – Participation Branding</title>
		<link>https://rendipeterson.com/new-way-of-building-brand-participation-branding/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 May 2013 09:16:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[brand building]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing campaign]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Lost in Val Sinestra]]></category>
		<category><![CDATA[participation branding]]></category>
		<category><![CDATA[trend digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=143</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu tugas utama marketer adalah membangun brand. Tugas berat ini mendorong marketer untuk selalu berinovasi dan mencari cara baru dalam membangun brand. Marketer harus selalu memerhatikan tren yang terjadi sehingga dapat membuat strategi yang tepat untuk digunakan. Harus diingat bahwa kemajuan teknologi yang pesat dapat mengubah perilaku konsumen. Berikut adalah contoh perubahan perilaku akibat  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-way-of-building-brand-participation-branding/">New Way of Building Brand – Participation Branding</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tugas utama marketer adalah membangun brand. Tugas berat ini mendorong marketer untuk selalu berinovasi dan mencari cara baru dalam membangun brand.</p>
<p>Marketer harus selalu memerhatikan tren yang terjadi sehingga dapat membuat strategi yang tepat untuk digunakan. Harus diingat bahwa kemajuan teknologi yang pesat dapat mengubah perilaku konsumen.</p>
<p>Berikut adalah contoh perubahan perilaku akibat kemajuan teknologi. Beberapa hari yang lalu, teman saya menceritakan suatu kisah yang menyadarkan saya bahwa perubahan perilaku akibat teknologi telah terjadi.</p>
<p>Anak teman saya itu masih berusia 12 tahun. Tahun lalu, teman saya membelikan dia sebuah ATV. Karena sudah bosan, ia merengek kepada ayahnya meminta sepeda motor kecil. Ayahnya menjawab, “Oke, nanti ATV-nya dijual dulu, setelah itu baru kita beli sepeda motor kecil.”</p>
<p>Sang anak segera mengajak pembantunya untuk membersihkan ATV, mengambil gambar ATV itu dengan smartphone, dan mengiklankannya ke Tokobagus.com. Teman saya sangat kaget melihat hal ini, karena cara yang dia pikirkan adalah menelepon toko yang dulu menjual ATV, kemudian menawarkan ATV bekas itu ke toko. <strong>Perubahan perilaku itu memang terjadi!!</strong></p>
<p>Ada tiga tren yang perlu diperhatikan marketer, yaitu:</p>
<p><strong>1. Self Expression/Sharing</strong> &#8211; Konsumen suka mengekspresikan diri dengan cara sharing informasi ke network mereka melalui owned media yang dimiliki.</p>
<p><strong>2. On Demand</strong> &#8211; Konsumen memiliki kendali penuh untuk memilih informasi yang akan dikonsumsi. Konsumen akan memilih brand yang relevan dengan kebutuhannya, apa yang ia butuhkan, dan kapan ia ingin mengakses informasi tersebut. Dari passive consumption à active management.</p>
<p><strong>3. Personal</strong> &#8211; Konsumen menginginkan layanan yang lebih personal. Konsumen ingin memiliki kebebasan lebih dalam memilih pengalaman mereka sendiri. Konsumen tidak lagi ingin diinterupsi, namun lebih menghargai “customized invitation”.</p>
<p>Tiga tren ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki ekspektasi on demand, menginginkan personal experience, dan suka mengekspresikan diri (self expression) dengan cara melakukan sharing informasi, gambar atau foto, dan lain-lain. Jika brand ingin tetap relevan dengan konsumen, brand harus melakukan partisipasi.</p>
<p>Cara baru untuk membangun merek adalah dengan melakukan <strong>“Participation Branding”</strong></p>
<p>Lost in Val Sinestra – digital campaign Swisscom untuk layanan video on demand. Tujuan campaign adalah meningkatkan brand awareness. Swisscom menciptakan website (http://www2.lost-in-val-sinestra.com) untuk membuat personalized horror thriller. Kita dapat mengatur tingkat keseraman dan menambahkan 10 pemain dari teman Facebook kita. Setelah kita mendaftar dan membuat thriller, kita bisa share thriller kita melalui Facebook, Twitter dan e-mail.</p>
<p>Campaign ini menjadi sangat populer dan respons yang diterima sangat bagus. Dalam 4 hari pertama, ada 48.000 visit ke web ini, 270.000 video yang dibuat, dan 2.048.778 Facebook page views .</p>
<p>Campaign ini dinilai berhasil karena konsepnya yang brilliant. Dengan mengusung tema horor, Swisscom berhasil mengajak konsumennya untuk berpartisipasi. Swisscom memfasilitasi konsumen untuk membuat personal thriller mereka, mengajak teman mereka, dan share hasil thriller ini ke teman-teman di social network mereka.</p>
<p>Jadi, siapkah marketer Indonesia untuk menyusun strategi membangun brand melalui participation branding?</p>
[follow id=&#8221;rendipeterson&#8221; size=&#8221;large&#8221; ]
<p>&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-way-of-building-brand-participation-branding/">New Way of Building Brand – Participation Branding</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Penggunaan Social Media Monitoring</title>
		<link>https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/</link>
					<comments>https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 09:21:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[New Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[digital campaign tipp ex]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing campaign]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[mention social media di di industri otomotif]]></category>
		<category><![CDATA[mention social media di industri perbankan]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Monitoring]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=21</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanggal 15 November lalu, Majalah Marketing mengadakan seminar digital marketing dengan judul “The Best of Global Digital Marketing”. Selama seminar, Mike Berry sebagai pembicara memberikan contoh-contoh kasus digital campaign yang terbaik di dunia. Beberapa contoh digital campaign yang dibahas adalah Pepsi, Starbucks, Mc Donald, Tipp-Ex, Monopoly dan banyak lagi.  Hal yang menarik dari digital campaign tersebut bukan hanya ide-ide kreatif yang melandasinya melainkan  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/">Aplikasi Penggunaan Social Media Monitoring</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 15 November lalu, Majalah Marketing mengadakan seminar <i>digital marketing</i> dengan judul <i>“The Best of Global Digital Marketing”</i>. Selama seminar, Mike Berry sebagai pembicara memberikan contoh-contoh kasus <i>digital campaign</i> yang terbaik di dunia. Beberapa contoh <i>digital campaign</i> yang dibahas adalah Pepsi, Starbucks, Mc Donald, Tipp-Ex, Monopoly dan banyak lagi.  Hal yang menarik dari <i>digital campaign</i> tersebut bukan hanya ide-ide kreatif yang melandasinya melainkan juga strategi dan hasil dari <i>digital campaign</i>.</p>
<p><span id="more-21"></span></p>
<p>Salah satu kasus <i>digital campaign</i> yang menarik untuk dibedah adalah <i>campaign</i> <i>“Shoot the Bear”</i> <i>by Tipp-Ex</i>. Produk Tipp-Ex adalah produk yang secara natural tidak banyak dibicarakan di dunia digital. Demi meningkatkan<i>share of voice</i> di dunia digital, Tipp-Ex meluncurkan video <i>“Shoot the Bear”</i> di Youtube. Video 30 detik ini memuat cuplikan kejadian pemburu yang sedang berkemah di hutan dan kemudian ada seekor beruang yang tiba-tiba muncul. Pemburu itu kebingungan untuk mengambil keputusan apakah dia harus menembak beruang tersebut atau tidak. Temannya terus menyarankan untuk menembak beruang itu namun pemburu tetap bimbang. Di akhir video 30 detik tersebut, ada 2 pilihan yang diberikan yaitu <i>“Shoot the Bear” &amp; “Don’t Shoot the Bear”</i> .Ketika pengunjung mengklik salah satu pilihan, mereka akan di <i>direct</i> ke halaman <i>flash</i> yang memiliki tampilan sangat mirip dengan Youtube. Kali ini, sang pemburu tidak mau menembak beruang tersebut. Pemburu itu kemudian mengambil Tipp-Ex yang berada di samping video dan menghapus sebagian judul video. Pemburu tersebut juga meminta kepada setiap pengunjung untuk <i>“Rewrite the Story”</i> dan <i>“Typing Something”.</i> Jika pengunjung memasukkan suatu kata kerja seperti <i>dances, fight</i>, dll, maka pengunjung dapat melihat cerita pilihan mereka. Inilah yang dinamakan “<i>Tipp Experience”</i>. Tipp-Ex telah menyediakan lebih dari 42 interaksi yang berbeda. Tipp-Ex juga mendorong pengunjung untuk <i>share</i> tentang <i>“Tipp experience”</i> yang mereka pilih melalui Facebook, Twitter dan Email.</p>
<p>Meskipun <i>campaign</i> ini hanya melalui media online, hasil <i>campaign</i> ini sangat luar biasa. Dalam 10 jam pertama, kecepatan <i>sharing</i> video ini adalah 1 tweet per detik. Dalam 36 jam, video ini sudah dilihat oleh 1 juta orang. Setelah 1 minggu, video ini sudah dipublikasikan di ratusan blog, 120.000 kali di share di Facebook dan di Tweet lebih dari 40.000 kali di Twitter. Hal ini juga meningkatkan jumlah <i>mention </i>Tipp-Ex. Sebelum <i>campaign</i> ini, jumlah <i>mention</i> Tipp-Ex hanyalah sekitar 100 <i>mention</i> per hari. Namun di hari peluncuran campaign ini, jumlah<i>mention</i> Tipp-Ex naik berkali-kali lipat hingga mencapai 1600 <i>mention</i>.</p>
<p>5 tahun yang lalu, pengukuran campaign konvensional menghadirkan suatu tantangan tersendiri bagi para marketer. Hal ini dikarenakan untuk dapat melakukan pengukuran campaign secara tepat, diperlukan suatu survey yang memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sekarang hasil digital campaign berupa banyaknya <i>mention</i>, jumlah share di Facebook dan Twitter sudah menjadi hal yang sangat biasa sekarang ini karena adanya platform <i>social media monitoring</i>.</p>
<p>Perkembangan teknologi yang pesat, telah mendorong munculnya social media, website, forum, blog, video, dll. Platform-platform social ini memudahkan konsumen untuk melakukan interaksi dengan sesama konsumen. Konsumen dengan menggunakan <i>“owned”</i> media seperti Facebook, Twitter hingga website, dapat melakukan percakapan dengan sesama konsumen. Percakapan yang terjadi merupakan pendapat,respon maupun pemikiran yang lugas terhadap suatu hal, baik berupa produk, servis atau peristiwa-peristiwa tertentu.</p>
<p>Banyaknya percakapan yang terjadi membuka peluang bagi para marketer untuk memperoleh informasi mengenai suatu topik tertentu. Jika marketer mulai untuk mendengarkan percakapan yang ada di dunia digital maka marketer akan memperoleh insght mengenai topik tersebut. Percakapan yang terjadi mengenai topik tertentu dapat dianalisa lebih lanjut dengan menggunakan Sentimen Analisis. Sentimen Analisis akan memisahkan setiap percakapan dalam beberapa kategori, misalnya menjadi sentimen positif, sentimen netral dan sentimen negatif. Cara untuk mendengarkan percakapan dan melakukan sentimen analisis adalah dengan menggunakan <i>social media monitoring</i>.</p>
<p>Aplikasi Penggunaan <i>Social media monitoring</i>:</p>
<p><strong>1.</strong><b> Mengetahui respon konsumen terhadap suatu hal (produk, servis, <i>event</i>,dll)</b><br />
Beberapa waktu lalu, sebuah <i>study</i> dari Trendrr mencoba membandingkan respon konsumen terhadap film <i>“Harry Potter &amp; the Deathly Hallows Part 2”</i> dan <i>“The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1”</i> dalam hal <i>buzz/mention</i> dan sentimen. Data <i>buzz</i> dan sentimen dikumpulkan selama 2 minggu sebelum setiap film ditayangkan. Hasilnya jumlah buzz <i>“Harry Potter”</i> jauh lebih banyak dibandingkan dengan buzz “Breaking Dawn”. Dalam hal sentimen di Twitter, film <i>“Breaking Dawn”</i> memperoleh 41% sentimen positif, 7% sentimen negatif dan 52% sentimen netral sementara film <i>“Harry Potter &amp; the Deathly Hallows Part 2”</i> memperoleh 70% sentimen positif, 7% sentimen negatif dan 23% sentimen netral. Dari analisa sentimen, dapat dilihat bahwa film <i>“Harry Potter”</i> memiliki sentimen yang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas.</p>
<p>2. <b><i>Alert System</i></b><br />
<i>Monitoring</i> jumlah <i>buzz/mention</i> dan sentimen dapat digunakan sebagai <i>alert system</i>. Perusahaan yang melakukan <i>monitoring</i> dengan menggunakan <i>social media monitoring</i> platform. Dari hasil<i>monitoring</i>, perusahaan dapat mengetahui seberapa banyak brand mereka dibicarakan tiap harinya. Grafik sentimen positif, negatif dan netral dapat memberikan gambaran situasi yang terjadi secara<i>real time</i>.  Dari data yang dikeluarkan oleh Alterian, Nestle pernah mengalami penurunan sentimen positif sebanyak 36,21%. Hal ini terjadi karena Nestle melakukan sensor terhadap video dari Greenpeace tentang penggunaan suplier yang tidak  <i>eco-friendly. </i>Jumlah sentimen positif yang turun drastis dan peningkatan sentimen negatif membuat Nestle mengambil tindakan yang cepat untuk mengatasi krisis yang terjadi. Bayangkan jika Nestle tidak melakukan monitoring maka percakapan yang terjadi mengenai Nestle adalah percakapan yang bersifat negatif dan merugikan Nestle. Sangat penting untuk perusahaan  melakukan <i>monitoring</i> terhadap brand maupun <i>campaign </i>mereka, sehingga jika ada indikasi potensi krisis yang dapat  membahayakan, perusahaan dapat segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.</p>
<p><strong>3. <i>Source of Knowledge</i></strong><br />
<i>Social media monitoring</i> dapat berfungsi sebagai <i>source of knowledge</i>. Marketer dapat melakukan<i>monitoring</i> terhadap suatu topik tertentu untuk memperoleh <i>“knowledge”</i>. Frontier Consulting Group beberapa waktu lalu telah mengakuisi Mediawave yang memiliki spesialisasi dalam <i>social media monitoring</i>. Dengan menggunakan platform Mediawave, Frontier Consulting Group mencoba untuk menampilkan <i>overview</i> mengenai industri otomotif dan industri perbankan. <i>Overview</i> ini yang diharapkan dapat memberikan <i>knowledge</i> bagi marketer mengenai 2 industri ini. Data <i>overview</i>industri merupakan hasil <i>monitoring</i> selama bulan Oktober 2011.</p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Perbankan.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-25" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Perbankan.jpg" alt="Sentimen Industri Perbankan" width="487" height="296" /></a></p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Otomotif.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-image-26" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/02/Sentimen-Industri-Otomotif.jpg" alt="Sentimen Industri Otomotif" width="489" height="296" /></a></p>
<p>Industri otomotif merupakan salah satu industri yang sangat cocok untuk menggunakan social media. Target market industri motor relatif muda dan sangat erat dengan <i>lifestyle</i>. Dari data Mediawave selama bulan Oktober 2011, industri otomotif merupakan salah satu industri dengan jumlah <i>mention</i>  paling banyak, yaitu 25.939<i>mention</i>/bulan. 84,58% total <i>mention</i> berasal dari social media (Facebook dan Twitter). Hal ini menunjukkan bahwa merek-merek di Industri otomotif sering dibicarakan di dunia digital. Dari data Mediawave, 86,72% dari jumlah <i>mention</i> yang ada di Industri perbankan merupakan sentimen netral, kemudian 9,36% sentimen positif dan 3,92% merupakan sentimen negatif.</p>
<p>Frontier Consulting Group juga melakukan <i>review</i> terhadap industri perbankan. Jika dibandingkan, industri perbankan memang relatif kurang dibicarakan dibandingkan Industri Otomotif. Dari data Mediawave bulan Oktober 2011, tercatat ada 7997 <i>mention</i> yang terjadi di industri perbankan. Jumlah <i>mention</i> ini hanya sepertiga dari total <i>mention</i> di industri otomotif. <i>Digital channel</i> yang menjadi sumber utama percakapan industri perbankan adalah Twitter (85,46%-6835 <i>mention</i>). Hal menarik dari <i>landscape </i>industri perbankan ini adalah tidak banyak percakapan yang terjadi di Facebook. Facebook memang memiliki pengguna yang banyak namun 67% pengguna Facebook Indonesia berada di kelompok umur 14-24 tahun. Kelompok umur 14-24 memang bukan merupakan target market utama di industri perbankan. Target market industri perbankan umumnya kelompok mapan yang  relatif tidak muda. Industri perbankan juga merupakan industri yang sangat mementingkan <i>“Trust”</i> dan cenderung konvensional. Hal-hal ini yang menyebabkan percakapan mengenai industri perbankan hanya sepertiga percakapan dari industri otomotif.</p>
<p>Hasil analisa sentimen industri perbankan menunjukkan bahwa sentimen positif (21,68%) di industri perbankan lebih tinggi dibandingkan sentimen positif (9,36%) di industri otomotif, meskipun demikian industri perbankan juga memiliki sentimen negatif yang lebih tinggi (10,54%) dibandingkan Industri Otomotif (3,92%) dan sentimen netral (67,78%) masih mendominasi di Industri perbankan maupun industri otomotif.</p>
<p>Social media monitoring mampu memberikan benefit yang sangat penting. Para marketer diharapkan dapat menggunakan social media monitoring untuk menambah basis informasi mengenai pasar, produknya, mempertajam strategi perusahaan di ranah digital , meluncurkan digital campaign yang sukses dan meningkatkan performa brand maupun perusahaan.</p>
<p>&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/">Aplikasi Penggunaan Social Media Monitoring</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://rendipeterson.com/aplikasi-penggunaan-social-media-monitoring/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
