Salah satu tugas utama marketer adalah membangun brand. Tugas berat ini mendorong marketer untuk selalu berinovasi dan mencari cara baru dalam membangun brand.

Marketer harus selalu memerhatikan tren yang terjadi sehingga dapat membuat strategi yang tepat untuk digunakan. Harus diingat bahwa kemajuan teknologi yang pesat dapat mengubah perilaku konsumen.

Berikut adalah contoh perubahan perilaku akibat kemajuan teknologi. Beberapa hari yang lalu, teman saya menceritakan suatu kisah yang menyadarkan saya bahwa perubahan perilaku akibat teknologi telah terjadi.

Anak teman saya itu masih berusia 12 tahun. Tahun lalu, teman saya membelikan dia sebuah ATV. Karena sudah bosan, ia merengek kepada ayahnya meminta sepeda motor kecil. Ayahnya menjawab, “Oke, nanti ATV-nya dijual dulu, setelah itu baru kita beli sepeda motor kecil.”

Sang anak segera mengajak pembantunya untuk membersihkan ATV, mengambil gambar ATV itu dengan smartphone, dan mengiklankannya ke Tokobagus.com. Teman saya sangat kaget melihat hal ini, karena cara yang dia pikirkan adalah menelepon toko yang dulu menjual ATV, kemudian menawarkan ATV bekas itu ke toko. Perubahan perilaku itu memang terjadi!!

Ada tiga tren yang perlu diperhatikan marketer, yaitu:

1. Self Expression/Sharing – Konsumen suka mengekspresikan diri dengan cara sharing informasi ke network mereka melalui owned media yang dimiliki.

2. On Demand – Konsumen memiliki kendali penuh untuk memilih informasi yang akan dikonsumsi. Konsumen akan memilih brand yang relevan dengan kebutuhannya, apa yang ia butuhkan, dan kapan ia ingin mengakses informasi tersebut. Dari passive consumption à active management.

3. Personal – Konsumen menginginkan layanan yang lebih personal. Konsumen ingin memiliki kebebasan lebih dalam memilih pengalaman mereka sendiri. Konsumen tidak lagi ingin diinterupsi, namun lebih menghargai “customized invitation”.

Tiga tren ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki ekspektasi on demand, menginginkan personal experience, dan suka mengekspresikan diri (self expression) dengan cara melakukan sharing informasi, gambar atau foto, dan lain-lain. Jika brand ingin tetap relevan dengan konsumen, brand harus melakukan partisipasi.

Cara baru untuk membangun merek adalah dengan melakukan “Participation Branding”

Lost in Val Sinestra – digital campaign Swisscom untuk layanan video on demand. Tujuan campaign adalah meningkatkan brand awareness. Swisscom menciptakan website (http://www2.lost-in-val-sinestra.com) untuk membuat personalized horror thriller. Kita dapat mengatur tingkat keseraman dan menambahkan 10 pemain dari teman Facebook kita. Setelah kita mendaftar dan membuat thriller, kita bisa share thriller kita melalui Facebook, Twitter dan e-mail.

Campaign ini menjadi sangat populer dan respons yang diterima sangat bagus. Dalam 4 hari pertama, ada 48.000 visit ke web ini, 270.000 video yang dibuat, dan 2.048.778 Facebook page views .

Campaign ini dinilai berhasil karena konsepnya yang brilliant. Dengan mengusung tema horor, Swisscom berhasil mengajak konsumennya untuk berpartisipasi. Swisscom memfasilitasi konsumen untuk membuat personal thriller mereka, mengajak teman mereka, dan share hasil thriller ini ke teman-teman di social network mereka.

Jadi, siapkah marketer Indonesia untuk menyusun strategi membangun brand melalui participation branding?

[follow id=”rendipeterson” size=”large” ]

 [/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]