<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Digital Marketing Strategy Archives - Rendipeterson</title>
	<atom:link href="https://rendipeterson.com/category/digital-marketing-strategy/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://rendipeterson.com/category/digital-marketing-strategy/</link>
	<description>Digital Business becomes easy</description>
	<lastBuildDate>Sat, 30 Dec 2017 16:18:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>Predictive Marketing (Part 1) – Meramal Masa Depan Tanpa Sihir</title>
		<link>https://rendipeterson.com/predictive-marketing-part-1-meramal-masa-depan-tanpa-sihir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2014 04:22:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=401</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa kemampuan yang sangat diinginkan oleh semua orang? Salah satu jawaban yang muncul adalah kemampuan untuk meramal masa depan. Tentu sangat menyenangkan jika kita bisa meramal apa yang akan terjadi di masa mendatang. Meskipun demikian, Respon yang muncul seringkali cenderung negatif. Kemampuan ini dianggap tidak mungkin dimiliki oleh orang biasa, kecuali menggunakan hal yang supranatural  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/predictive-marketing-part-1-meramal-masa-depan-tanpa-sihir/">Predictive Marketing (Part 1) – Meramal Masa Depan Tanpa Sihir</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa kemampuan yang sangat diinginkan oleh semua orang? Salah satu jawaban yang muncul adalah kemampuan untuk meramal masa depan. Tentu sangat menyenangkan jika kita bisa meramal apa yang akan terjadi di masa mendatang.</p>
<p>Meskipun demikian, Respon yang muncul seringkali cenderung negatif. Kemampuan ini dianggap tidak mungkin dimiliki oleh orang biasa, kecuali menggunakan hal yang supranatural seperti sihir.</p>
<p>Benarkah demikian? Apakah marketer tidak bisa meramal masa depan kecuali menggunakan sihir?</p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2014/08/Predictive-Marketing.png"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter wp-image-402 size-medium" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2014/08/Predictive-Marketing-300x224.png" alt="Predictive Marketing" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Jawabannya adalah marketer bisa meramal masa depan <strong>Tanpa Sihir, </strong>dengan menggunakan <strong>Predictive Marketing</strong>.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Predictive Marketing merupakan proses penggunaan data mining dan teknik statistik untuk meramal future demand dan memberikan solusi yang optimal untuk meningkatkan efisiensi terhadap bisnis.</p>
<p>Berikut merupakan contoh aplikasi Predictive Marketing:</p>
<p><strong>Amazon</strong></p>
<p>Revenue Amazon pada tahun 2013 adalah USD 74,45 Billion. Sistem rekomendasi Amazon menghasilkan sekitar 30% dari revenue Amazon atau senilai USD 22,33 Billion. Bagaimana Amazon memperoleh tambahan revenue yang luar biasa seperti ini?</p>
<p>Kunci sukses Amazon adalah meramal produk yang dibutuhkan oleh konsumennya kemudian merekomendasikan produk yang tepat. Bukankah hal ini telah menunjukkan kemampuan untuk meramal masa depan?</p>
<p>Penjelasan sederhananya adalah Amazon mengumpulkan data mengenai barang yang pernah dibeli, barang yang disukai dan di review oleh konsumen kemudian dikombinasikan dengan data lokasi mereka tinggal serta barang apa yang konsumen lain lihat dan beli.</p>
<p>Setelah Amazon memperoleh data –data ini, Amazon akan menggunakan model statistik untuk meramal barang apa yang akan dibeli oleh konsumen dan menempatkannya di rekomendasi produk.</p>
<p><strong>Dell</strong></p>
<p>Dell memiliki tujuan, yaitu meningkatkan produktifitas tim salesnya. Pendekatan yang digunakan Dell adalah Predictive Marketing. Dell melakukan predictive analytic untuk mengidentifikasikan prospek klien dan menentukan jenis klien dengan kemungkinan besar akan membeli produk Dell.</p>
<p>Dell berhasil menemukan buying pattern dari perusahaan yang membeli produk Dell. Selanjutnya Dell mencari data – data berdasarkan internal &amp; eksternal data untuk menentukan segmen klien yang paling potensial. Tahap berikutnya, Dell memberikan daftar prospek customer tersebut kepada tim sales untuk ditindak lanjuti.</p>
<p>Apakah tujuan Dell tercapai? Bagaimana hasil dari Predictive Marketing yang dilakukan oleh Dell?</p>
<p>Cynthia Gumbert &#8211; Director of Customer Relationship Management Dell, menyatakan bahwa Dell berhasil meningkatkan produktifitas sales, efisiensi dan revenue menjadi 2 kali lipat dengan lead prospect 50% lebih sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa Dell berhasil memilih dan memprioritaskan kelompok klien yang paling potensial dengan effort yang efektif dan efisien.</p>
<p>2 contoh di atas, yaitu Amazon &amp; Dell, telah memberikan bukti tak terbantahkan bahwa marketer dapat memiliki kemampuan meramal masa depan tanpa sihir, dengan menggunakan Predictive Marketing.</p>
<p>Pada tulisan berikutnya, saya akan membahas lebih detail step by step pelaksanaan Predictive Marketing untuk meningkatkan performa bisnis perusahaan.[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/predictive-marketing-part-1-meramal-masa-depan-tanpa-sihir/">Predictive Marketing (Part 1) – Meramal Masa Depan Tanpa Sihir</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Membangun Customer Experience Yang Luar Biasa Di Digital Era?</title>
		<link>https://rendipeterson.com/bagaimana-membangun-customer-experience-yang-luar-biasa-di-digital-era/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Feb 2014 04:06:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[New Trend]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=375</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang menjadi fokus para digital marketer di 2014? Satu pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab karena akan menentukan visi para digital marketer di 2014 ini. Econsultantcy &amp; Adobe mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dengan mengadakan survey untuk meneliti area yang akan menjadi fokus digital marketer di tahun 2014. Hasil survey menyatakan bahwa fokus utama  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/bagaimana-membangun-customer-experience-yang-luar-biasa-di-digital-era/">Bagaimana Membangun Customer Experience Yang Luar Biasa Di Digital Era?</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang menjadi fokus para digital marketer di 2014? Satu pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab karena akan menentukan visi para digital marketer di 2014 ini.</p>
<p>Econsultantcy &amp; Adobe mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dengan mengadakan<a title="survey" href="https://blogs.adobe.com/digitaleurope/2014/01/28/customer-experience-content-marketing-top-2014-digital-trends/" target="_blank"> survey</a> untuk meneliti area yang akan menjadi fokus digital marketer di tahun 2014. Hasil survey menyatakan bahwa fokus utama digital marketer adalah mengenai  Customer Experience. Bagaimana cara menciptakan customer experience yang luar biasa.</p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2014/02/Bagaimana-Membangun-Customer-Experience-yang-luar-biasa-di-digital-era.jpg"><img decoding="async" class="aligncenter size-large wp-image-379" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2014/02/Bagaimana-Membangun-Customer-Experience-yang-luar-biasa-di-digital-era-1024x680.jpg" alt="Bagaimana Membangun Customer Experience yang luar biasa di digital era" width="618" height="410" /></a></p>
<p>Salah satu hot area yang telah lama didengungkan para digital marketer untuk meningkatkan customer experience adalah <b>Mobile</b>.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Mobile tidak dapat dipungkiri lagi telah lama diprediksi akan menjadi trend digital, namun, di tahun 2014 ini, para digital marketer sudah sepakat untuk mengembangkan mobile secara serius. Hal ini sesuai dengan prediksi CEO Google, Eric Schmidt :  <b>“The trend has been mobile was winning. It’s now won.</p>
<p>Mobile merupakan jembatan antara dunia nyata dan dunia digital. Mobile memiliki kemampuan untuk memberikan experience yang luar biasa kepada penggunanya, contohnya adalah <a title="Tesco/Home Plus" href="https://rendipeterson.com/kunci-sukses-digital-marketing.html" target="_blank">Tesco/Home Plus</a> yang membuat online store di subway. Melalui teknologi QR Code di smartphone, para penumpang subway dapat membeli barang yg diinginkan.</p>
<p>Mobile juga memberikan pengalaman baru melalui teknologi <b><i>Location Based System</i></b>, user dapat memperoleh offer dan iklan yang tepat sesuai dengan lokasinya saat itu.</p>
<p>Selain mobile, hasil survey juga memberikan insight mengenai top 3 strategi untuk menunjang terciptanya customer experience yang luar biasa, yaitu: <b>Content Marketing, Social Media Engagement dan Targeting &amp; Personalization.</b></p>
<p>Content Marketing sudah terbukti memberikan hasil yang signifikan dalam membangun persepsi konsumen mengenai brand dan melakukan edukasi sesuai dengan purchase cycle konsumen meskipun demikian, dengan maraknya content marketing, Efektifitas Content Marketing terancam oleh Content Marketing itu sendiri. Hanya content yang bermutu dan berkualitas yang tetap akan diminati.</p>
<p>Social Media Engagement merupakan tantangan untuk digital marketer. Social Media Besar seperti Facebook mengubah algoritma mereka untuk memberikan customer experience yang terbaik kepada konsumennya. Di sisi lain, perubahan ini membuat organic reach dari brand berkurang dari sebelumnya sehingga Facebook “memaksa” para pemilik brand untuk beriklan melalui Facebook. Perubahan ini mendorong inovasi dan pemahaman mengenai customer behavior untuk meningkatkan Social Media Engagement.</p>
<p>Targeting &amp; Personalization merupakan strategi yang menarik. Bagaimana cara untuk memilih segment customer dan memberikan personalisasi terhadap setiap kebutuhan mereka sehingga membangun kedekatan antara brand dengan customernya.</p>
<p>Proses kreasi “A Great Customer Experience” akan melibatkan fungsi bisnis dalam organisasi dan pengaturan touch point customer yang dirancang dengan tepat. Elemen-elemen dari touch point customer seperti customer service, iklan, content management merupakan bagian penting untuk membangun customer experience yang luar biasa.</p>
<p>Customer Experience yang luar biasa hanya akan tercipta jika suatu organisasi memiliki data yang diperlukan , teknologi yang tepat, strategi yang direncanakan dengan baik dan culture yg dibangun dari orang-orang di perusahaan tersebut.</p>
<p>Jangan takut untuk bereksperimen dalam penciptaan Customer Experience yang luar biasa</p>
<p><b>“It is better to try and fail than fail to try”</b></p>
<p>Apakah Para Digital Marketer sudah menyiapkan strategi yang tepat untuk menciptakan customer experience yang luar biasa?<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
&nbsp;</p>
<p>&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/bagaimana-membangun-customer-experience-yang-luar-biasa-di-digital-era/">Bagaimana Membangun Customer Experience Yang Luar Biasa Di Digital Era?</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Starbucks Campaign &#8211; Tweet A Coffee</title>
		<link>https://rendipeterson.com/starbucks-campaign-tweet-coffee/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Dec 2013 05:02:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[New Technology]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=329</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa yang tidak kenal dengan logo ini. Salah satu logo yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan telah menjadi bagian gaya hidup modern saat ini. Selain populer, Starbucks juga dikenal sebagai salah satu brand yang gemar bereksperimen menggunakan teknologi untuk menjangkau customernya. Tanggal 28 Oktober 2013, Starbucks meluncurkan salah satu digital campaign yang sangat menarik,  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/starbucks-campaign-tweet-coffee/">Starbucks Campaign &#8211; Tweet A Coffee</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tidak kenal dengan logo ini.</p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/12/Starbucks-Logo.gif"><img decoding="async" class="aligncenter size-medium wp-image-330" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/12/Starbucks-Logo-300x282.gif" alt="Starbucks Logo" width="300" height="282" /></a></p>
<p>Salah satu logo yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan telah menjadi bagian gaya hidup modern saat ini. Selain populer, Starbucks juga dikenal sebagai salah satu brand yang gemar bereksperimen menggunakan teknologi untuk menjangkau customernya.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Tanggal 28 Oktober 2013, Starbucks meluncurkan salah satu digital campaign yang sangat menarik, dengan nama “Tweet A Coffee”. Starbucks bekerjasama dengan Twitter untuk memudahkan pelanggan Starbucks mentraktir siapapun segelas kopi Starbucks dengan cara yang unik, yaitu melalui eGift via Twitter.</p>
<p>Sebelum pelanggan Starbucks dapat mengirimkan eGift, Pelanggan Starbucks harus menghubungkan antara Starbucks dan Twitter Account mereka. Kemudian untuk mengaktifkan pengiriman eGift, pelanggan Starbucks hanya perlu mengirimkan tweet kepada @TweetACoffee dengan format “@TweetACoffee to @YourFriendHere”.</p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/12/Format-Tweet-A-Coffee.jpg"><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-331" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/12/Format-Tweet-A-Coffee.jpg" alt="Format Tweet A Coffee" width="542" height="187" /></a></p>
<p>Setelah itu, penerima eGift akan memperoleh link eGift yang dapat di redeem melalui starbucks digital card atau print out.</p>
<p><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/12/Prosedur-Tweet-A-Coffee.png"><img decoding="async" class="aligncenter size-large wp-image-332" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/12/Prosedur-Tweet-A-Coffee-1024x172.png" alt="Prosedur Tweet A Coffee" width="618" height="103" /></a>Starbucks bekerja sama dengan Twitter untuk membuat profile khusus untuk @TweetACoffee. Profil ini memiliki kemampuan untuk mengirimkan tweet yang bersifat privat sehingga penerima eGift hanyalah orang yang memang berhak menerima eGift ini, bayangkan jika tweet dari @TweetACoffee dibuat bersifat public, maka link eGift ini akan bisa digunakan orang lain dan bukan penerima yang berhak. Profil ini juga dapat membedakan retweet dan mention, sehingga mencegah multiple charge kepada sang pemberi eGift.</p>
<p><strong>Starbucks &#8211; Tweet A Coffee Campaign</strong><br />
http://www.youtube.com/watch?v=AxPZj9x_Dsk<br />
Inti dari campaign Tweet A Coffe ini, seperti yang diungkapkan oleh Chief Communication Officer Starbucks &#8211; Adam Brotman, adalah mendorong pelanggan untuk berterima kasih atas perbuatan baik yang dilakukan orang lain terhadap mereka dengan cara memberikan reward yaitu eGift Starbucks.<br />
Starbucks mampu menciptakan suatu experience yang memudahkan pelanggannya melalui campaign ini. Bayangkan seorang pelanggan Starbucks yang teringat akan kebaikan seorang temannya, hanya dengan mengirimkan sebuah Tweet, ia dapat berbuat baik terhadap temannya. Sungguh suatu pengalaman yang sangat menggoda untuk dicoba.</p>
<p>Campaign ini menuai respon yang sangat baik. Ada lebih dari 27000 pelanggan starbucks yang memberikan eGift kepada temannya dan 34% nya memberi lebih dari 1 eGift. Total eGift yang terjual adalah 37.000. Dari digital campaign Tweet A Coffe ini, Starbucks berhasil memperoleh revenue lebih dari $180,000.</p>
<p><a href="http://keyhole.co/realtime/Starbucks/"><img decoding="async" class="aligncenter size-large wp-image-333" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/12/Campaign-Tracker-Starbucks-Tweet-A-Coffee-1024x636.png" alt="Campaign Tracker Starbucks Tweet A Coffee" width="618" height="383" /></a><br />
Benefit yang diperoleh Starbucks melalui Campaign Tweet A Coffee ini adalah:<br />
<strong>1. Cara pendekatan baru dalam berinteraksi dengan pelanggan melalui digital &amp; social channel</strong><br />
Melalui campaign ini, pelanggan Starbucks dapat membangun hubungan yang lebih erat kepada pelanggannya. Kontribusi Starbucks menciptakan moment-moment menyenangkan membuat Starbucks akan semakin melekat dalam kehidupan pelanggannya.</p>
<p><strong>2. Meningkatkan Trial, Traffic &amp; Sales</strong><br />
eGift ini akan meningkatkan jumlah trial pembelian Starbucks. Jika biasanya trial memakan banyak biaya, namun melalui campaign ini, biaya trial seolah-olah dibebankan kepada sang pemberi hadiah. Selain peningkatan jumlah trial, akan terjadi juga peningkatan jumlah pengunjung di gerai-gerai Starbucks (siapa yang akan melewatkan segelas Starbucks Gratis?) dan berujung pada peningkatan sales secara langsung.</p>
<p><strong>3. Demografi + Social + Financial Data</strong><br />
Starbucks memang sudah memiliki data demografi pelanggan Starbucks yang memiliki account Starbucks, berkat campaign ini (pelanggan Starbucks yang ingin mengirimkan eGift, harus menghubungkan Starbucks &amp; Twitter account mereka), Starbucks dapat memperoleh social data (Twitter ID &amp; Klout Score)dari para pelanggannya. Penggabungan demografi &amp; social data bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan bahkan oleh perusahaan teknologi sekalipun. Saat Demografi, Social &amp; Financial Data sudah terintegrasi, maka Starbucks dapat mengembangkan program Customer Relationship Management/CRM dengan lebih baik lagi (Long Term Benefit).</p>
<p>Starbucks melalui Digital Marketing Campaign – Tweet A Coffee, sudah membuktikan bahwa penggunaan teknologi yang tepat (Platform Twitter For Commerce) dengan strategi yang sesuai akan menghasilkan outcome yang luar biasa dan penggunaan social media dapat menghasilkan Return On Investment (ROI) secara langsung.</p>
<p>Apa pendapat anda mengenai digital campaign ini? Let me know your comment<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/starbucks-campaign-tweet-coffee/">Starbucks Campaign &#8211; Tweet A Coffee</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Is Email Marketing Dead Or Alive?</title>
		<link>https://rendipeterson.com/email-marketing-dead-alive/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Nov 2013 08:45:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=314</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tahun 1971,  seorang US Programmer, Raymond Tomlinson berhasil mengirimkan “QWERTYUIOP” sebagai email pertama di dunia. Sejak saat itu, popularitas email sebagai sarana komunikasi pun semakin meningkat. Seiring dengan penggunaan email yang semakin banyak, Email Marketing pun segera menjadi favorit para pemasar. Setelah lebih dari 40 tahun, beberapa kalangan melontarkan pendapat bahwa Era Email Marketing,  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/email-marketing-dead-alive/">Is Email Marketing Dead Or Alive?</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><!-- [fusion_builder_container hundred_percent="yes" overflow="visible"][fusion_builder_row][fusion_builder_column type="1_1" background_position="left top" background_color="" border_size="" border_color="" border_style="solid" spacing="yes" background_image="" background_repeat="no-repeat" padding="" margin_top="0px" margin_bottom="0px" class="" id="" animation_type="" animation_speed="0.3" animation_direction="left" hide_on_mobile="no" center_content="no" min_height="none"][if gte mso 9]><xml>
<w:WordDocument>
<w:View>Normal</w:View>
<w:Zoom>0</w:Zoom>
<w:TrackMoves/>
<w:TrackFormatting/>
<w:PunctuationKerning/>
<w:ValidateAgainstSchemas/>
<w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>
<w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent>
<w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>
<w:DoNotPromoteQF/>
<w:LidThemeOther>IN</w:LidThemeOther>
<w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian>
<w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript>
<w:Compatibility>
<w:BreakWrappedTables/>
<w:SnapToGridInCell/>
<w:WrapTextWithPunct/>
<w:UseAsianBreakRules/>
<w:DontGrowAutofit/>
<w:SplitPgBreakAndParaMark/>
<w:DontVertAlignCellWithSp/>
<w:DontBreakConstrainedForcedTables/>
<w:DontVertAlignInTxbx/>
<w:Word11KerningPairs/>
<w:CachedColBalance/>
</w:Compatibility>
<m:mathPr>
<m:mathFont m:val="Cambria Math"/>
<m:brkBin m:val="before"/>
<m:brkBinSub m:val="&#45;-"/>
<m:smallFrac m:val="off"/>
<m:dispDef/>
<m:lMargin m:val="0"/>
<m:rMargin m:val="0"/>
<m:defJc m:val="centerGroup"/>
<m:wrapIndent m:val="1440"/>
<m:intLim m:val="subSup"/>
<m:naryLim m:val="undOvr"/>
</m:mathPr></w:WordDocument>
</xml><![endif]--></p>
<p><!-- [if gte mso 9]><xml>
<w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
LatentStyleCount="267">
<w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/>
<w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/>
<w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/>
</w:LatentStyles>
</xml><![endif]--><!-- [if gte mso 10]>



<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin-top:0cm;
	mso-para-margin-right:0cm;
	mso-para-margin-bottom:10.0pt;
	mso-para-margin-left:0cm;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
</style>

<![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Pada tahun 1971,<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>seorang US Programmer, Raymond Tomlinson berhasil mengirimkan “QWERTYUIOP” sebagai email pertama di dunia. Sejak saat itu, popularitas email sebagai sarana komunikasi pun semakin meningkat. Seiring dengan penggunaan email yang semakin banyak, Email Marketing pun segera menjadi favorit para pemasar.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah lebih dari 40 tahun, beberapa kalangan melontarkan pendapat bahwa Era Email Marketing, akan segera berlalu karena Email Marketing yang berbasis email, masih menggunakan teknologi yang kuno dan akan segera digantikan oleh teknologi yang lebih baru seperti social media atau mobile instant messaging. Pendapat ini memicu banyak perdebatan mengenai masa depan email marketing, apakah email marketing masih akan terus bertahan atau harus rela untuk digantikan teknologi yang lebih baru?</p>
<p><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p class="MsoNormal"><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/11/is-email-marketing-dead-or-alive.png"><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-313" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/11/is-email-marketing-dead-or-alive.png" alt="is email marketing dead or alive" width="352" height="209" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><b>Is Email Marketing Dead?</b></p>
<p class="MsoNormal">Sebelum memutuskan untuk meninggalkan email marketing, perlu dilihat apakah email marketing masih berfungsi dengan baik, apakah ada produk subtitusi lain yang bisa menggantikan peran email dengan lebih baik dan relevansi email marketing di masa mendatang.</p>
<p class="MsoNormal"><b style="mso-bidi-font-weight: normal;">Apakah Email Marketing Masih Berfungsi Dengan Baik?</b></p>
<p class="MsoNormal">Salah satu pertanyaan mendasar adalah apakah email masih berfungsi sebagai alat komunikasi? Berapa jumlah akun email di dunia? Radicati menyatakan bahwa di 2013, jumlah akun email di dunia adalah 3,9 milyar dan akan terus bertumbuh hingga mencapai 4,9 milyar di 2017 sementara jumlah email yang dikirimkan setiap harinya di seluruh dunia adalah 182,9 milyar email dan terus tumbuh hingga mencapai 206,6 milyar email perhari. Fakta ini menunjukkan bahwa email telah memiliki jumlah pengguna yang sangat masif dan masih aktif digunakan.</p>
<p class="MsoNormal">Saat email masih berperan sebagai salah satu alat komunikasi yang efektif, sangatlah tepat bagi para marketer untuk memilih email marketing sebagai salah satu strategi komunikasi andalan mereka. Alasan utama Email Marketing masih menjadi pilihan banyak marketer karena Email masih memiliki Return On Investment yang sangat tinggi, bisa mencapai 4000%, ROI ini 20 kali lipat lebih baik jika dibandingkan dengan direct mail. Jadi email marketing masih berfungsi dengan baik.</p>
<p class="MsoNormal"><b style="mso-bidi-font-weight: normal;">Produk Subtitusi Lain</b></p>
<p class="MsoNormal">Social Media &amp; Mobile Instant Messaging disebut-sebut sebagai teknologi yang bisa menggantikan peran Email.</p>
<p class="MsoNormal">Social Media memang luar biasa dan memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi secara cepat. Apakah social media bisa menggantikan peran email secara menyeluruh? Raksasa social Media seperti Facebook, Twitter, Linkedin ternyata masih menggunakan email untuk berinteraksi atau memberikan informasi dengan penggunanya. Kesimpulannya, email masih memiliki peran yang khusus yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh social media saat ini.</p>
<p class="MsoNormal">Mobile Instant Messaging seperti Whatsapp, Line, Kakao talk, Wechat, dll, memang memiliki keunggulan dalam hal real time dan tingkat interaksi yang tinggi dibandingkan email, meskipun demikian, email masih memiliki keunggulan dalam hal personalisasi. Email dengan menggunakan Email Marketing Software, mampu mengirimkan pesan untuk banyak pengguna namun tetap dalam bentuk yang personal (mampu mencantumkan nama, gender dan data-data lainnya di email).</p>
<p class="MsoNormal"><b style="mso-bidi-font-weight: normal;">Relevansi Email Marketing Di Masa Mendatang</b></p>
<p class="MsoNormal">Email jika diibaratkan adalah seorang veteran yang berpengalaman. Email marketing masih relevan digunakan karena email terus berevolusi. Email Responsive (Email yang dapat dilihat dengan baik di PC, Tablet dan Smartphone) &amp; Triggered Email (Email yang terkirim akibat suatu pemicu, misalnya auto reply pendaftaran form di website) merupakan hasil evolusi dari email.</p>
<p class="MsoNormal">Kesimpulannya email marketing masih hidup dan terus berevolusi. Jadi apa alasan para marketer untuk tidak menggunakan email marketing?</p>
<p><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/email-marketing-dead-alive/">Is Email Marketing Dead Or Alive?</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Does Technology Make Your Life Better or Worse?</title>
		<link>https://rendipeterson.com/technology-make-life-better-worse/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Sep 2013 10:52:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[digital campaign]]></category>
		<category><![CDATA[i forgot my phone]]></category>
		<category><![CDATA[impact of technology]]></category>
		<category><![CDATA[letseattogether]]></category>
		<category><![CDATA[peran teknologi di masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[skype stay together]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=274</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah Teknologi membuat hidup menjadi lebih baik atau lebih buruk? Beberapa waktu lalu, New York Times membahas mengenai dampak buruk penggunaan teknologi. Salah satu video yang diulas adalah video dengan judul “I Forgot My Phone” yang diperankan oleh seorang komedian wanita bernama Charlene deGuzman. Video ini menggambarkan bahwa teknologi yang membuat orang semakin terkoneksi, justru  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/technology-make-life-better-worse/">Does Technology Make Your Life Better or Worse?</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Teknologi membuat hidup menjadi lebih baik atau lebih buruk?</p>
<p>Beberapa waktu lalu, <a title="New York Times" href="http://bits.blogs.nytimes.com/2013/09/01/disruptions-more-connected-yet-more-alone/?_r=1#!">New York Times</a> membahas mengenai dampak buruk penggunaan teknologi. Salah satu video yang diulas adalah video dengan judul <a title="&quot;I Forgot My Phone&quot;" href="http://www.youtube.com/watch?v=OINa46HeWg8">“I Forgot My Phone”</a> yang diperankan oleh seorang komedian wanita bernama Charlene deGuzman. Video ini menggambarkan bahwa teknologi yang membuat orang semakin terkoneksi, justru dapat  membuat seseorang makin merasa kesepian <i>(more connected yet more lonely)</i>.</p>
<div class="video-shortcode"><iframe width="1100" height="619" src="https://www.youtube.com/embed/OINa46HeWg8?feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></div>
<p>Video ini menampilkan aktifitas Charlene tanpa smartphonenya. Dimulai dari bangun tidur, berolahraga, makan siang, bowling, perayaan ulang tahun hingga sebelum tidur. Video ini menunjukkan bahwa Charlene merasakan kesepian karena saat dia berada di tengah-tengah temannya, mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri yang diakses via smartphone. Teknologi seperti internet, smartphone dan social media bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, persis seperti yang dialami Charlene.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Padahal teknologi internet, smartphone dan social media digunakan untuk mempermudah komunikasi namun yang terjadi adalah teknologi ini membuat setiap individu memiliki dunia mereka sendiri dan mengabaikan orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Apakah ini berarti bahwa teknologi internet, smartphone dan social media menyebabkan dampak buruk?</p>
<p>Bagaimana dengan campaign dari <b>Skype Stay Together</b> &amp; <b>#Letseattogether</b> dari Coca Cola ini?</p>
<p><b>Skype Stay Together</b></p>
<p>Skype meluncurkan satu campaign dengan nama <b>Skype Stay Together</b>. Skype mendorong penggunanya untuk membagikan kisah mereka yang terpisah jauh dari keluarga mereka dan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang yang dikasihinya. Skype juga memberikan hadiah kesempatan untuk pulang dan bertemu dengan orang terdekat mereka.</p>
<p>Salah satu video yang diluncurkan berjudul <a title="“Impossible Family Potrait”" href="https://www.youtube.com/watch?v=3MUohoDv3XE">“Impossible Family Potrait”</a>. Denis yang hidup Pennsylvania, terpisah jauh dari keluarganya di Uganda. Saat pergi dari Uganda, Denis bahkan tidak membawa foto keluarga. Denis sangat merindukan keluarganya di Uganda terutama anaknya sehingga saat Denis bisa melihat senyum dari orang-orang yang dikasihinya via Skype, ini merupakan hal terbaik dalam hidupnya. Dengan bantuan Skype, akhirnya Denis bisa memiliki foto bersama keluarganya di Uganda.</p>
<div class="video-shortcode"><iframe width="1100" height="619" src="https://www.youtube.com/embed/3MUohoDv3XE?feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></div>
<p><b>Coca Cola #LetsEatTogether</b></p>
<div class="video-shortcode"><iframe width="1100" height="619" src="https://www.youtube.com/embed/5k1fvMmfJxs?feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></div>
<p>6 dari 10 orang Rumania menyantap makanannya sendirian di depan TV. Sungguh satu fakta yang sangat menyedihkan. Orang Rumania kehilangan pengalaman yang menarik berupa makan bersama keluarga maupun teman.</p>
<p>Hal ini mendorong Coca Cola mencetuskan satu gerakan #LetsEatTogether untuk mengedukasi penduduk Rumania agar kembali makan bersama keluarga dan teman. Tujuannya adalah bukan hanya untuk membagikan makanan bersama namun juga membagikan kebahagiaan dan momen-momen istimewa bersama keluarga ataupun teman.</p>
<p>Coca Cola menggunakan strategi integrated marketing memanfaatkan multi screen. Coca cola membuat hashtag #LetsEatTogether dan memfasilitasi penduduk Rumania untuk mengundang keluarga atau teman mereka untuk makan bersama. Uniknya, tweet dengan hashtag #LetsEatTogether akan ditayang kan secara real time melalui iklan TV di TV Nasional. Bintang Film dan Blogger menggunakan kesempatan ini untuk mengundang satu sama lain.</p>
<p>Campaign #LetsEatTogether ini menuai sukses besar, dalam beberapa minggu, ratusan undangan makan via twitter telah disiarkan melalui TV. Coca cola selaku sponsor dari acara ini juga mengundang chef dan koki terkenal untuk merayakan campaign #LetsEatTogether. Movement ini langsung menarik perhatian TV nasional dan menjadi trending topic Twitter di Rumania.</p>
<p>Dari contoh-contoh diatas, dapat disimpulkan bahwa teknologi diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mempermudah komunikasi dengan keluarga dan teman kita. Meskipun demikian teknologi juga menyimpan potensi yang harus diwaspadai dimana teknologi dapat membuat seseorang makin tidak peduli dengan keadaan di sekelilingnya dan membangun tembok pemisah satu sama lainnya.</p>
<p>Jadi apakah teknologi membuat hidup anda lebih baik atau lebih buruk?[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/technology-make-life-better-worse/">Does Technology Make Your Life Better or Worse?</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>New Approach – Creative Solution Based On Data</title>
		<link>https://rendipeterson.com/new-approach-creative-solution-based-on-data/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jul 2013 04:37:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[inovasi kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Snickers PPC Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[solusi kreatif dengan data]]></category>
		<category><![CDATA[Unique PPC Campaign]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=193</guid>

					<description><![CDATA[<p>“We will always have problems as long as we live.” Sebagai seorang marketer kita seringkali menghadapi banyak problem yang kompleks, misalnya bagaimana menjangkau target konsumen, meningkatkan brand awareness produk kita, mengubah persepsi konsumen, meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan hingga bagaimana memenangkan kompetisi melawan kompetitor. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memahami problem yang dihadapi dan membuat solusi  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-approach-creative-solution-based-on-data/">New Approach – Creative Solution Based On Data</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><i>“We will always have problems as long as we live.”</i></p>
<p>Sebagai seorang marketer kita seringkali menghadapi banyak problem yang kompleks, misalnya bagaimana menjangkau target konsumen, meningkatkan brand awareness produk kita, mengubah persepsi konsumen, meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan hingga bagaimana memenangkan kompetisi melawan kompetitor.</p>
<p>Pertanyaannya adalah bagaimana kita memahami problem yang dihadapi dan membuat solusi yang tepat?</p>
<p>Seringkali marketer terjebak dalam mengembangkan solusi lama dan tidak mencoba pendekatan baru untuk mencapai hasil yang diinginkan. Marketer seharusnya menggunakan pendekatan yang baru untuk membuat <b><i>Creative Solution Based On Data.</i></b><br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Salah satu contoh perusahaan yang menggunakan <b><i>Creative Solution Based On Data</i></b> adalah Snickers. Snickers merupakan perusahaan <i>candy bar</i> dengan nilai sales lebih dari $ 3 billion di seluruh dunia.</p>
<p>Snickers dan AMV BBDO menemukan <b>data</b> yang menarik bahwa orang yang lapar memiliki kecenderungan untuk melakukan <b>kesalahan</b> saat mengetik dengan <b>pola yang sama</b>. Data ini digunakan Snickers sebagai dasar dari PPC Campaign nya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/07/Misspelled-with-regularity-pattern.png"><img decoding="async" class="aligncenter  wp-image-195" src="https://rendipeterson.com/wp-content/uploads/2013/07/Misspelled-with-regularity-pattern.png" alt=" Misspelled-with-regularity-pattern.png" width="596" height="332" /></a></p>
<p>Snickers dan AMV BBDO melakukan satu pendekatan yang berbeda dalam melakukan PPC Campaign. PPC Campaign biasanya selalu dimulai dengan <b><i>keyword research</i></b> untuk memperoleh list keyword yang relevan dengan Snickers misalnya seperti “Candy UK” atau “Chocolate UK” tapi Snickers tidak menggunakan pendekatan ini. Snickers justru memilih untuk memasang iklan untuk <i>query</i> atau hasil pencarian yang salah ketik.</p>
<p>Ide ppc campaign ini adalah untuk menjangkau target market Snickers yaitu orang-orang yang lapar dan membutuhkan snack, sehingga ketika ada orang yang lapar dan melakukan pencarian, mereka akan memasukkan kata-kata yang salah/<b><i>misspelled keywords</i></b>. Snickers yang sudah membeli keyword ini akan mengingatkan bahwa mereka bukanlah diri mereka saat mereka lapar-<b><i>“You are not you when you are hungry” </i></b>dan menyarankan untuk segera mengambil atau membeli Snickers dengan <i>landing page</i> di website <a href="http://yourenotyouwhenyourehungry.com/" target="_blank">youcantspellwhenyourehungry.com</a>.</p>
<p>Pada awalnya Snickers hanya membeli 500 kata-kata yang salah ketik tapi kemudian Snickers melanjutkan untuk membeli lebih dari 25.000 kata-kata yang salah ketik.</p>
<p>Campaign ini sangat kreatif dan tepat. Snickers sebagai merek snack dapat menjangkau target marketnya yaitu orang-orang yang lapar melalui indikator <b>misspelling keywords</b>. Campaign ini juga akan memakan biaya yang lebih rendah karena keyword atau kata-kata yang dibeli snickers merupakan keyword yang misspelled (hampir tidak ada orang yang membeli misspelled word sehingga kompetisinya rendah dan harga CPCnya rendah).</p>
<p>PPC Campaign ini dengan segera meraih sukses. Dalam 2 hari, Snickers sudah berhasil menjangkau 558.589 orang yang lapar melalui campaign ini, tentunya dengan beberapa orang yang memang tidak mampu untuk mengetik dengan benar.</p>
<p>Snickers dengan PPC Campaignnya yang unik merupakan contoh sukses bagaimana menggunakan data untuk membuat creative solution. Snickers berhasil memanfaatkan data perilaku search orang yang lapar untuk menjangkau konsumen snickers dengan biaya CPC seminimal mungkin.</p>
<p>So bagaimana kita sebagai marketer membuat <b><i>Creative Solution Based On Data?</i></b><br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-approach-creative-solution-based-on-data/">New Approach – Creative Solution Based On Data</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>New Way of Building Brand – Participation Branding</title>
		<link>https://rendipeterson.com/new-way-of-building-brand-participation-branding/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 May 2013 09:16:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media]]></category>
		<category><![CDATA[brand building]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing campaign]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Lost in Val Sinestra]]></category>
		<category><![CDATA[participation branding]]></category>
		<category><![CDATA[trend digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=143</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu tugas utama marketer adalah membangun brand. Tugas berat ini mendorong marketer untuk selalu berinovasi dan mencari cara baru dalam membangun brand. Marketer harus selalu memerhatikan tren yang terjadi sehingga dapat membuat strategi yang tepat untuk digunakan. Harus diingat bahwa kemajuan teknologi yang pesat dapat mengubah perilaku konsumen. Berikut adalah contoh perubahan perilaku akibat  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-way-of-building-brand-participation-branding/">New Way of Building Brand – Participation Branding</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tugas utama marketer adalah membangun brand. Tugas berat ini mendorong marketer untuk selalu berinovasi dan mencari cara baru dalam membangun brand.</p>
<p>Marketer harus selalu memerhatikan tren yang terjadi sehingga dapat membuat strategi yang tepat untuk digunakan. Harus diingat bahwa kemajuan teknologi yang pesat dapat mengubah perilaku konsumen.</p>
<p>Berikut adalah contoh perubahan perilaku akibat kemajuan teknologi. Beberapa hari yang lalu, teman saya menceritakan suatu kisah yang menyadarkan saya bahwa perubahan perilaku akibat teknologi telah terjadi.</p>
<p>Anak teman saya itu masih berusia 12 tahun. Tahun lalu, teman saya membelikan dia sebuah ATV. Karena sudah bosan, ia merengek kepada ayahnya meminta sepeda motor kecil. Ayahnya menjawab, “Oke, nanti ATV-nya dijual dulu, setelah itu baru kita beli sepeda motor kecil.”</p>
<p>Sang anak segera mengajak pembantunya untuk membersihkan ATV, mengambil gambar ATV itu dengan smartphone, dan mengiklankannya ke Tokobagus.com. Teman saya sangat kaget melihat hal ini, karena cara yang dia pikirkan adalah menelepon toko yang dulu menjual ATV, kemudian menawarkan ATV bekas itu ke toko. <strong>Perubahan perilaku itu memang terjadi!!</strong></p>
<p>Ada tiga tren yang perlu diperhatikan marketer, yaitu:</p>
<p><strong>1. Self Expression/Sharing</strong> &#8211; Konsumen suka mengekspresikan diri dengan cara sharing informasi ke network mereka melalui owned media yang dimiliki.</p>
<p><strong>2. On Demand</strong> &#8211; Konsumen memiliki kendali penuh untuk memilih informasi yang akan dikonsumsi. Konsumen akan memilih brand yang relevan dengan kebutuhannya, apa yang ia butuhkan, dan kapan ia ingin mengakses informasi tersebut. Dari passive consumption à active management.</p>
<p><strong>3. Personal</strong> &#8211; Konsumen menginginkan layanan yang lebih personal. Konsumen ingin memiliki kebebasan lebih dalam memilih pengalaman mereka sendiri. Konsumen tidak lagi ingin diinterupsi, namun lebih menghargai “customized invitation”.</p>
<p>Tiga tren ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki ekspektasi on demand, menginginkan personal experience, dan suka mengekspresikan diri (self expression) dengan cara melakukan sharing informasi, gambar atau foto, dan lain-lain. Jika brand ingin tetap relevan dengan konsumen, brand harus melakukan partisipasi.</p>
<p>Cara baru untuk membangun merek adalah dengan melakukan <strong>“Participation Branding”</strong></p>
<p>Lost in Val Sinestra – digital campaign Swisscom untuk layanan video on demand. Tujuan campaign adalah meningkatkan brand awareness. Swisscom menciptakan website (http://www2.lost-in-val-sinestra.com) untuk membuat personalized horror thriller. Kita dapat mengatur tingkat keseraman dan menambahkan 10 pemain dari teman Facebook kita. Setelah kita mendaftar dan membuat thriller, kita bisa share thriller kita melalui Facebook, Twitter dan e-mail.</p>
<p>Campaign ini menjadi sangat populer dan respons yang diterima sangat bagus. Dalam 4 hari pertama, ada 48.000 visit ke web ini, 270.000 video yang dibuat, dan 2.048.778 Facebook page views .</p>
<p>Campaign ini dinilai berhasil karena konsepnya yang brilliant. Dengan mengusung tema horor, Swisscom berhasil mengajak konsumennya untuk berpartisipasi. Swisscom memfasilitasi konsumen untuk membuat personal thriller mereka, mengajak teman mereka, dan share hasil thriller ini ke teman-teman di social network mereka.</p>
<p>Jadi, siapkah marketer Indonesia untuk menyusun strategi membangun brand melalui participation branding?</p>
[follow id=&#8221;rendipeterson&#8221; size=&#8221;large&#8221; ]
<p>&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-way-of-building-brand-participation-branding/">New Way of Building Brand – Participation Branding</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>New Customer Decision Journey in Digital Era</title>
		<link>https://rendipeterson.com/new-customer-decision-journey-in-digital-era/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Apr 2013 09:07:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[6 degree of separation]]></category>
		<category><![CDATA[cara konsumen membuat keputusan]]></category>
		<category><![CDATA[customer decision journey]]></category>
		<category><![CDATA[decision making process]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=89</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tahun 2012, United States Census Bureau (USCB) mencatat milestone penduduk dunia bahwa jumlah penduduk dunia telah mencapai 7 miliar dan diperkirakan akan tumbuh menjadi 8 miliar di tahun 2027. Jumlah penduduk dunia yang sangat banyak ini menimbulkan impresi bahwa jika kita bertemu dengan seseorang, maka pertemuan ini sangat spesial karena probabilitas untuk bertemu adalah  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-customer-decision-journey-in-digital-era/">New Customer Decision Journey in Digital Era</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 2012, United States Census Bureau (USCB) mencatat <i>milestone</i> penduduk dunia bahwa jumlah penduduk dunia telah mencapai 7 miliar dan diperkirakan akan tumbuh menjadi 8 miliar di tahun 2027.</p>
<p>Jumlah penduduk dunia yang sangat banyak ini menimbulkan impresi bahwa jika kita bertemu dengan seseorang, maka pertemuan ini sangat spesial karena probabilitas untuk bertemu adalah 1:7.000.000.000. Meskipun demikian, berapa banyak dari kita yang pernah menemukan bahwa orang-orang baru yang kita temui ternyata memiliki hubungan dengan teman kita bahkan merupakan teman dari teman dari teman kita? Apakah semua penduduk dunia sebenarnya terkoneksi?<span id="more-89"></span></p>
<p>Stanley Milgram, seorang psikolog di Amerika, mengadakan satu penelitian untuk mengetahui bagaimana dua orang yang dipilih secara random dapat terhubung. Penelitian yang sering disebut “<i>small world phenomenon</i>” ini menunjukkan bahwa 2 orang yang tidak saling kenal ini akan terhubung melalui 5–6 orang. Hasil penelitian ini sering juga disebut dengan “<i>6 degree of separation</i>”—semua orang akan terhubung satu sama lain melalui maksimum 6 orang.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Penelitian ini telah menunjukkan bahwa semua orang terhubung satu sama lain. Perkembangan teknologi seperti <i>social network</i> bahkan membantu kita untuk terhubung lebih dekat lagi. Pada tahun 2011, tim data Facebook menerbitkan hasil penelitian mengenai bagaimana seseorang di media sosial dapat terhubung satu sama lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 orang yang tidak saling kenal dapat terhubung melalui 4,74 orang. <i>Social network</i> membuat dunia menjadi semakin terkoneksi dan terasa semakin kecil.</p>
<p>Fenomena ini menyebabkan istilah <i>connected consumer</i> menjadi populer. <i>Connected consumer</i> adalah konsumen yang terhubung melalui <i>social network</i>. <i>Social network</i> memudahkan <i>connected consumer</i> untuk memperluas <i>network</i>-nya, baik melalui <i>social graph</i> (berdasarkan <i>relationship</i>) maupun <i>interest graph</i> (berdasarkan <i>interest</i> yang sama) sehingga <i>connected consumer</i> seharusnya memiliki <i>network</i> yang jauh lebih besar.</p>
<p><i>Connected consumer</i> selalu ingin memperoleh informasi dari <i>network social graph</i> dan <i>interest graph</i> yang <i>personalized</i>. <i>Connected consumer</i> memilih informasi yang akan diakses dan dikonsumsi dalam kehidupan sehari-harinya. Perubahan ini menghasilkan <i>customer decision journey</i> (CDJ) yang berbeda.</p>
<p>CDJ<i> connected consumer</i> tidak lagi menggunakan <i>systematic</i> <i>approach</i>, dimana konsumen memilih banyak <i>potential brand</i> yang kemudian secara bertahap dipersempit menjadi beberapa <i>brand</i> sebelum melakukan pembelian. CDJ<i> connected consumer</i> akan lebih bersifat<i> iterative</i> dan sangat bergantung pada <i>brand advocacy</i> dari <i>network</i>-nya.</p>
<p>McKinsey Quarterly menggambarkan CDJ dari <i>connected consumer</i> yang terdiri dari empat tahap:</p>
<p>1. <i>Consider</i>: perjalanan dalam membuat keputusan selalu dimulai dengan <i>brand-brand</i> yang menjadi <i>top of mind</i> di kepala konsumen akibat <i>selected</i> <i>eksposure</i> melalui <i>network</i> yang dimiliki.</p>
<p>2. <i>Evaluate</i>: pada tahap ini konsumen akan mencari <i>input</i> dari teman, <i>review</i>, toko, dan sumber-sumber lain. Konsumen akan menambahkan <i>brand</i> yang dipertimbangkan, membandingkan dengan kompetitornya, dan  membuang <i>brand</i> yang tidak relevan dengan kriteria yang diinginkan.</p>
<p>3. <i>Buy</i>: tahap ketika konsumen melakukan pembelian di toko. Di tahap ini ketersediaan, kemasan, harga, dan interaksi dengan sales menjadi <i>touch point</i> konsumen yang semakin penting.</p>
<p>4. <i>Enjoy, advocate, bond</i>: <i>connected consumer</i> yang <i>enjoy</i> dengan <i>brand</i> yang dibeli akan lebih mudah untuk melakukan <i>advocate</i> kepada orang lain yang berada di dalam <i>network</i>-nya dan tercipta suatu <i>bond</i> dengan <i>brand</i> tersebut, dan akan menciptakan suatu <i>loyalty loop</i> yang membuat pembelian <i>brand</i> tersebut akan terulang lagi tanpa melalui tahap <i>consider</i> dan <i>evaluate</i>.</p>
<p>Perubahan CDJ ini mendorong <i>brand-brand</i> untuk lebih fokus menciptakan interaksi, <i>engagement</i>,dan <i>experience</i> yang disukai konsumen sesuai dengan tahap CDJ.</p>
<p><i>Brand</i> juga harus memperhatikan <i>brand advocacy</i> karena <i>connected consumer</i> sangat bergantung pada <i>advocacy </i>yang terjadi di <i>social graph</i> dan <i>social interest</i>. <i>Brand</i> memiliki potensi besar untuk menyebarkan <i>brand advocacy</i> dengan cara menciptakan strategi untuk membangun hubungan dengan <i>connected consumer</i> dan komunitasnya. <i>Brand </i>yang berhasil melakukan hal ini akan memiliki loyalitas yang lebih tinggi dibanding dengan kompetitor.[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/new-customer-decision-journey-in-digital-era/">New Customer Decision Journey in Digital Era</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Content Marketing – New Digital Marketing Trend in 2013</title>
		<link>https://rendipeterson.com/content-marketing-new-digital-marketing-trend-in-2013/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 10:29:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[case study content marketing]]></category>
		<category><![CDATA[content marketing]]></category>
		<category><![CDATA[contoh public relation digital]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[red bull stratos project]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=43</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dahulu ada batasan yang sangat jelas antara perusahaan media dan perusahaan non media namun sekarang batasan itu telah memudar. Kemajuan teknologi seperti website, blog, video dan social media, membuat brand dapat memiliki Own Media sendiri. Brand menggunakan Own Media mereka untuk memberikan informasi dan berinteraksi dengan customer mereka. Own Media membutuhkan content untuk disampaikan kepada  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/content-marketing-new-digital-marketing-trend-in-2013/">Content Marketing – New Digital Marketing Trend in 2013</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dahulu ada batasan yang sangat jelas antara perusahaan media dan perusahaan non media namun sekarang batasan itu telah memudar. Kemajuan teknologi seperti website, blog, video dan social media, membuat brand dapat memiliki <em>Own Media</em> sendiri. Brand menggunakan <em>Own Media</em> mereka untuk memberikan informasi dan berinteraksi dengan customer mereka. <em>Own Media</em> membutuhkan <em>content</em> untuk disampaikan kepada customer. Hasilnya, brand bertransformasi menjadi media company.</p>
<blockquote><p><em>“We Are All Media Companies Now”</em></p>
<p><span id="more-43"></span></p></blockquote>
<p>Brand sebagai media company akan menggunakan <em>content</em> untuk membangun brand, meningkatkan <em>awarenes</em>s &amp; <em>trust</em>, mendorong <em>purchase intent</em>, menciptakan <em>word of mouth</em> dan meningkatkan <em>engagement</em> dengan <em>target audience</em> mereka. Hal ini akan mendorong digital marketer menaruh perhatian lebih terhadap <em>content marketing</em>.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
<em><b>Content marketing</b></em><strong> is a marketing technique of creating and distributing relevant and valuable </strong><em><b>content</b></em><strong> to attract, acquire, and engage a clearly defined and understood target audience – with the objective of driving profitable customer action – Content Marketing Institute.</strong></p>
<p>Di tahun 2012, salah satu <em>content marketing</em> yang paling berhasil adalah Red Bull Stratos Project. Red Bull memiliki misi untuk memecahkan rekor dunia <em>Free Fall</em>. Felix Baumgartner akan terjun dari ketinggian 128,100 feet, jatuh bebas sehingga melebihi kecepatan supersonic (1,342.8 km/jam) sebelum membuka parasut dan mendarat dengan selamat di bumi.</p>
<p>Peristiwa ini menyedot perhatian sangat banyak orang. Saat misi ini dilaksanakan, ada 8 juta online viewer yang melihat secara langsung/<em>streaming</em>.  Lebih dari 40 Stasiun TV menyiarkan kejadian ini, dan lebih dari 100 portal berita yang menulis mengenai Red Bull Stratos. Video ini sudah dilihat lebih dari 32 juta kali di Youtube. Foto pendaratan Felix Baumgartner yang di post di Facebook Page Red Bull Stratos menerima lebih dari 21.000 comment, 51.000 share, dan 489.000 like. Di Twitter, Felix Baumgartner dan Redbull mendominasi <em>Trending Topic</em> Twitter pada tanggal 14 Oktober 2012. Dampak dari peristiwa ini sungguh besar. Majalah Forbes memperkirakan bahwa <em>global eksposure</em> yang diterima Red Bull setara dengan puluhan juta dollar Amerika.</p>
<p>Keberhasilan Red Bull memperoleh eksposure yang besar sangat ditunjang dengan komitmen mereka terhadap <em>content marketing</em>. Red Bull sangat fokus untuk membuat <em>Great Content</em>. Red Bull berani melakukan investasi yang besar bahkan memiliki <em>media house</em> khusus <em>content</em>.</p>
<p><em>Content marketing</em> yang berhasil selalu memerlukan <em><b>“Great Content”</b></em> sebagai inti.</p>
<p>Keberhasilan Red Bull dalam menjalankan <em>content marketing</em>, telah membuka mata para digital marketer. <em>Content marketing</em> segera menjadi prioritas utama oleh para digital marketer di 2013. Hasil Riset dari Econsultancy menyatakan bahwa 3 prioritas digital marketer dunia di 2013 adalah <em>content marketing</em>, <em>conversion rate optimization</em> <em>dan social media engagement</em>.</p>
<p>Data Riset Frontier Consulting Group menyatakan bahwa kelompok <em><b>Creator</b></em>/<em>content maker </em>hanya 8,5% dan sisanya adalah pengkonsumsi <em>content</em> di internet. Fakta ini menunjukkan bahwa kesempatan brand untuk masuk melalui <em>content marketing</em> sangat terbuka. Persaingan untuk membuat <em>Great Content</em> masih belum seberat di negara-negara maju.</p>
<p>Saat <em>content marketing</em> menjadi prioritas utama, digital marketer harus menentukan siapa sebenarnya <em>target audience</em>, bagaimana behavior mereka dalam melakukan pembelian kemudian apa masalah terbesar yang mereka hadapi, bagaimana cara mereka mencari solusi atas pemasalahan tersebut.</p>
<p>Setelah mengetahui semua hal di atas, digital marketer dapat membuat <em>content</em> yang <strong>menarik, </strong><em><b>engaging</b></em><strong> dan relevan</strong> di setiap fase <em>buying cycle</em>, apakah <em>content</em> ini digunakan untuk <em>awareness</em> produk, riset mengenai solusi yang ditawarkan, meningkatkan <em>purchase intent</em> atau <em>sales</em>. Jenis <em>content</em> yang bisa diproduksi adalah <em>blog post, picture, infographic, video, report/e-book, slideshare</em>, dll.</p>
<p>Tujuan dari <em>content</em> yang dibuat adalah memberikan <strong>nilai tambah</strong> kepada customer. Customer tidak mau dipaksa untuk membeli, apa yang mereka inginkan adalah <em>content</em> yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka.</p>
<p>Bagaimana digital marketer Indonesia bersiap menghadapi Tren Baru <em>Digital Marketing</em> di 2013, yaitu <em>content marketing.</em> Strategi <em>content marketing</em> apa yang dipersiapkan di 2013? Segera persiapkan strategi <em>content marketing</em> brand anda sebelum tertinggal dari persaingan.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
&nbsp;[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/content-marketing-new-digital-marketing-trend-in-2013/">Content Marketing – New Digital Marketing Trend in 2013</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Utilisasi Informasi untuk Memenangkan Kompetisi</title>
		<link>https://rendipeterson.com/utilisasi-informasi-untuk-memenangkan-kompetisi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 10:25:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Digital Marketing Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[digital campaign target]]></category>
		<category><![CDATA[digital marketing strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Fear of Missing Out]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<category><![CDATA[gold rush california]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah informasi online per menit]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan informasi]]></category>
		<category><![CDATA[utilisasi informasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://rendipeterson.com/?p=40</guid>

					<description><![CDATA[<p>Utilisasi informasi dapat menjadi kunci sukses dalam kehidupan setiap orang. Salah satu contoh utilisasi informasi yang dapat mengubah hidup orang banyak adalah peristiwa Gold Rush di California. Di Januari 1848, James W Marshall menemukan bongkahan emas saat mengerjakan bangunan untuk John Sutter di American River. Marshall dan John Sutter segera mengetes apakah ini adalah bongkahan emas asli. Hasil  [...]</p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/utilisasi-informasi-untuk-memenangkan-kompetisi/">Utilisasi Informasi untuk Memenangkan Kompetisi</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Utilisasi informasi dapat menjadi kunci sukses dalam kehidupan setiap orang. Salah satu contoh utilisasi informasi yang dapat mengubah hidup orang banyak adalah peristiwa <i>Gold Rush</i> di California.</p>
<p>Di Januari 1848, James W Marshall menemukan bongkahan emas saat mengerjakan bangunan untuk John Sutter di <i>American River</i>. Marshall dan John Sutter segera mengetes apakah ini adalah bongkahan emas asli. Hasil tes membuktikan bahwa ini adalah emas asli. Rumor penemuan emas ini mulai merebak. Bulan Maret 1848, penemuan ini ditulis di koran. Awalnya banyak orang bersikap skeptis akan berita ini, namun Sam Brannan membuat kehebohan saat ia berkeliling kota dengan membawa emas yang dia temukan.</p>
<p>Tahun 1849, Gelombang <i>Gold Rush</i> dimulai. Banyak penduduk Amerika yang menjual rumahnya, meninggalkan pekerjaan mereka, untuk pergi menjadi penambang emas di California. Ledakan penduduk terjadi di kota San Fransisco dari 800 penduduk di 1848 menjadi lebih dari 100.000 penduduk di 1849.<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script><br />
Satu informasi bahwa California kaya akan emas telah mengubah hidup banyak orang.</p>
<p>Di masa lalu, tantangan yang dihadapi adalah kelangkaan informasi. Informasi merupakan sesuatu yang mahal dan berharga sehingga hanya sekelompok orang yang dapat memperoleh informasi.</p>
<p>Di masa kini, sangat banyak informasi yang tersedia secara online. Berikut adalah informasi jumlah informasi online yang dibuat setiap 1 menit:</p>
<ul>
<li>48 jam video diupload oleh pengguna Youtube</li>
<li>571 website baru yang dibuat</li>
<li>100.000 tweet</li>
<li>694.000 search query di Google</li>
<li>695.000 status update di Facebook</li>
<li>200 juta email terkirim</li>
</ul>
<p><i>“With so much information now online, it is exceptionally easy to simply dive in and drown” – Alfred Glossbrenner</i></p>
<p>Jumlah informasi yang sangat banyak dapat menimbulkan beberapa dampak negatif:</p>
<p><b><i>Less Attention Span</i></b><br />
Bayangkan saat seseorang <i>browsing</i> di internet, berapa <i>tab browser</i> yang dibuka pada saat bersamaan. Melimpahnya informasi di dunia <i>online</i>, membuat orang menjadi  <i>multitasking</i> atau melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan. Jika hal ini terjadi secara terus menerus, orang akan terbiasa untuk berganti fokus secara cepat. Hasilnya adalah orang akan memiliki lebih sedikit waktu untuk fokus pada satu tugas/ <i>Less Attention Span</i>.</p>
<p><b><i>Fear of Missing Out (FOMO)</i></b><br />
Definisi <i>Fear of Missing Out (FOMO)</i> dari JWT Intelligence adalah satu perasaan tidak nyaman yang diderita seseorang karena ada sesuatu yang terlewatkan mengenai aktifitas teman kita, apa yang dia tahu atau kepemilikan terhadap sesuatu yang lebih bagus daripada yang kita miliki.<br />
FOMO dapat mengakibatkan seseorang takut untuk pergi ke restoran dan memesan makanan yang “salah” atau FOMO juga dapat mendorong seseorang melakukan pembelian sebenarnya tidak dibutuhkan, misalnya membeli <i>smartphone</i> terbaru, karena semua teman kelompoknya sudah memiliki <i>smartphone</i> terbaru itu. Hal ini terjadi karena penderita FOMO menerima tekanan sosial dan perasaan tidak ingin “berbeda” dari lingkungan.<br />
Informasi dari <i>social media</i> mengenai teman-teman, justru memperparah FOMO, karena seseorang akan makin mudah tergoda untuk selalu mengecek <i>social media</i> karena merasa takut akan melewatkan sesuatu yang “menarik” dari teman-temannya.</p>
<p><b><i>Less Time to Procces Information</i></b><br />
Ketersediaan informasi yang melimpah, justru membuat rasa lapar akan informasi makin meningkat. Akibatnya konsumsi akan informasi semakin meningkat, seseorang tidak hanya mengkonsumsi informasi yang <i>“need to know”</i> tapi juga informasi yang bersifat <i>“nice to know”.</i> Perilaku membaca bisa berubah menjadi <i>skimming</i> sehingga orang memiliki kecenderungan untuk tidak memproses informasi/ <i>Less Time to Process Information</i>.</p>
<p>Bagi marketer, informasi mengenai <i>industrial landscape</i>, <i>customer behavior</i>, <i>brand awareness &amp; brand image</i>, akan sangat berguna untuk menyusun strategi marketing. Tantangan yang dihadapi oleh marketer adalah bagaimana memperoleh informasi yang dibutuhkan, bagaimana melakukan <i>filtering</i> terhadap informasi, ekstraksi informasi dan bagaimana menggunakan informasi untuk membuat strategi yang tepat dan relevan.</p>
<p>Penggunaan <i>digital media</i> memudahkan marketer untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan. Data mengenai calon konsumen dapat diperoleh melalui <i>log in form</i> di website. Tren mengenai pembicaraan tentang topik tertentu dapat diperoleh melalui penggunaan <i>Social Media Monitoring Software</i>, seperti Mediawave, Radian 6, dll.</p>
<p>Semakin banyak informasi yang dapat dikumpulkan, semakin mudah bagi marketer untuk melakukan <i>micro segmentation</i>, menciptakan <i>personalized offer</i> or <i>treatment</i> dan menggunakan <i>predictive modelling framework</i>.</p>
<p>Salah satu perusahaan yang menggunakan informasi untuk memenangkan persaingan adalah Target. Target adalah perusahaan <i>discount store</i> dengan revenue sebesar US$ 69,87 Billion di 2011. Target mengumpulkan informasi seperti, <i>personal data</i> (nama, alamat email), data demografi, <i>history</i> transaksi kartu kredit. Target juga melakukan analisa sejarah pembelian ibu hamil. Semua informasi itu diolah sehingga Target memiliki suatu sistem yang dapat mengeluarkan <i>Pregnancy Score</i>. Dari <i>Pregnancy Score</i>, Target akan mengirimkan kupon diskon untuk item khusus yang dibutuhkan oleh  member Target di periode tertentu, misalnya di 20 minggu pertama, ibu hamil biasanya membeli supplemen untuk kalsium, magnesium dan <i>zinc </i>dalam jumlah banyak<i>.</i>Jadi Target mengirimkan kupon diskon untuk pembelian suplemen kalsium, magnesium dan <i>zinc</i>. Hasilnya, member target mendapatkan <i>personalized offer</i> yang sesuai dengan kebutuhan mereka sehingga Target dapat melakukan retensi pelanggan dan meningkatkan <i>wallet share</i>.</p>
<p>Bagaimana marketer melakukan utilisasi informasi secara tepat akan menjadi kunci sukses untuk memenangkan kompetisi di pasar. Apakah marketer di Indonesia siap untuk melakukan utilisasi informasi secara tepat?<br />
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script><br />
<!-- Responsive 1 --><br />
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-4718073935162842"
data-ad-slot="6551654073"
data-ad-format="auto"></ins><br />
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script></p>
<p>The post <a href="https://rendipeterson.com/utilisasi-informasi-untuk-memenangkan-kompetisi/">Utilisasi Informasi untuk Memenangkan Kompetisi</a> appeared first on <a href="https://rendipeterson.com">Rendipeterson</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
